Masjid Agung Al-Falah

April 19th, 2008 by aidil No comments »

Masjid yang terletak di Jl. Sultan Thaha, Telanaipura, Jambi ini memiliki keunikan, yaitu masjid ini tidak berdinding dan memiliki banyak tiang, sehingga terkenal dengan sebutan Mesjid Seribu Tiang.

Mesjid yang merupakan mesjid terbesar di kota Jambi ini menjadi pusat kegiatan dan dakwah islam. Pada masa lalu, mesjid ini diduga merupakan pusat Kesultanan Jambi.

Masjid Agung Palembang

April 19th, 2008 by aidil No comments »

Masjid yang terletak tak Jauh dari Plaza Benteng Kuto Besak, di kota Palembang, Sumatera Selatan ini dibangun pada  masa kepemimpinan  Sultan Mahmud Badarudin I Jayo Wikramo, tepatnya tahun 1738.

Meski digarap oleh seorang arsitek Eropa, pengaruh Cina ikut muncul pada arsitektur mesjid ini. Hal itu ditandai oleh bentukan limas dan hiasan ornamen khas Cina pada sejumlah atapnya. Paduan dua budaya ini menjadi ciri khas Mesjid Agung Palembang dan membuat banyak pelancong terkagum-kagum pada keindahan mesjid ini.

Pesona Masjid Shirathal Mustaqiem

April 17th, 2008 by aidil No comments »

Sejarah masjid Shirathal Mustaqiem, nyaris setua usia Samarinda.Setelah masuknya Islam lewat syiar Islam yang dikenalkan pedagang dari Sulawesi Selatan (Sulsel), tak lama setelah itu, sebuah masjid didirikan di pusat berdirinya Samarinda, yang dikenal pula sebagai kampung dagang di dekat Pelabuhan atau Jembatan Aji hilir Sungai Mahakam, Samarinda Seberang.

Masjid yang didirikan Sayyid Abdurrahman Bin Muhammad Assegaf atau dikenal sebagai Pangeran Bendahara, Kapitan Jaya, Petta Loloncong dan Usulonna ini hingga saat ini menjadi pusat kegiatan-kegiatan masyarakat Samarinda Seberang. Kendati dua masjid besar telah didirikan di sekitar kecamatan tersebut namun daya tarik masjid tua ini tetap penuh pesona. Khususnya pada Ramadan maupun Idul Fitri.

Selain kegiatan peribadatan, masjid yang pernah meraih juara dua festival masjid bersejarah ini memiliki fungsi pendidikan melalui sarana belajar membaca dan mengaji Al-Quran. Pada tahun 1952 didirikan sekolah madrasah dan tahun 1972 didirikan pula SMP Hasanuddin. Tahun 1956 ayah Walikota Samarinda Achmad Amins, H Saharuddin Mappe pernah menjadi guru Agama di Madrasah Dinil Islamiyah (MDI) ini. MDI ini mengajarkan berbagai mata pelajaran yakni ilmu tauhid, fiqhi, bahasa Arab dan ilmu-ilmu yang bernuansa Islam.

Sumber : pesona masjid shirathal mustaqiem

Masjid Jami’ Mlangi

April 17th, 2008 by aidil No comments »

Masjid Jami’ Mlangi adalah bangunan paling legendaris di dusun Mlangi, Yogyakarta karena dibangun pada masa Kyai Nur Iman, sekitar tahun 1760-an. Meski telah mengalami renovasi dan beberapa perubahan, arsitektur aslinya masih dapat dinikmati. Diantaranya adalah gapura masjid dan dinding sekitar masjid yang didesain seperti bangunan di daerah Kraton. Di dalam masjid yang oleh warga sekitar disebut “Masjid Gedhe” itu juga tersimpan sebuah mimbar berwarna putih yang digunakan sejak Kyai Nur Iman mengajar Islam.

Selengkapnya di masjid jami’mlangi 

Masjid Agung Sunda Kelapa

April 10th, 2008 by No comments »

Masjid Agung Sunda Kelapa terletak dikawasan elit Menteng. Dikelilingi oleh rimbunan pohon-pohon besar.

 

http://www.mesjidsundakelapa.or.id/

Masjid Raya Gantiang

April 10th, 2008 by No comments »

Di samping Masjid Muhammadan di Pasa Batipuah, Kelurahan Pasa Gadang, Kecamatan Padang Selatan, Masjid Raya Gantiang adalah masjid tua di Kota Padang. Bahkan dibanding usia, Masjid Raya Gantiang jauh lebih tua dari Masjid Muhammadan. Masjid ini sendiri, awalnya adalah sebuah bangunan semi permanen di tepi Batang Arau yang berdiri pada sekitar tahun 1700 masehi. Namun lantaran Belanda hendak membuat jalan ke Pelabuhan Emma Haven di Taluak Bayua, maka masjid itu dibongkar dan dibangun di lokasi yang sekarang.

Selengkapnya di http://teddirafdianto.wordpress.com/2007/10/04/ masjid-raya-gantiang-eksotis-dan-sarat-sejarah/

Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh

April 10th, 2008 by No comments »

Dipusat kota Banda Aceh berdiri dengan megahnya sebuah Mesjid yang agung yang bernama “MESJID RAYA BAITURRAMAN”.

Zaman dulu ditempat ini berdiri sebuah Mesjid Kerajaan Aceh. Sewaktu Belanda menyerang kota Banda Aceh pada tahun 1873 Mesjid ini dibakar, kemudian pada tahun 1875 Belanda membangun kembali sebuah Mesjid sebagai penggantinya.

Mesjid ini berkubah tunggal dan dibangun pada tanggal 27 Desember 1883. Selanjutnya Mesjid ini diperluas menjadi 3 kubah pada tahun 1935. Terakhir diperluas lagi menjadi 5 kubah (1959 – 1968)

Arsitektur Masjid di Indonesia

April 10th, 2008 by No comments »

ARTIKEL :
Dari Festival Istiqlal II

Di penghujung 1995 bangsa Indonesia kembali disuguhi pagelaran akbar kebudayaan bernafaskan Islam yaitu Festival Istiqlal II. Tidak berlebihan kiranya apabila pada penyelenggaraan kali ini terdapat beberapa keistimewaan yang tidak terdapat pada festival tahun 1991 yang lalu. Paling tidak terdapat 2 keistimewaan, pertama festival kali ini diselenggarakan ketika bangsa Indonesia masih dalam suasana higar bingar pesta kemerdekaan yang ke-50. Kedua, dengan selesainya penulisan Mushaf Istiqlal, umat Islam di Indonesia mencoba menancapkan keberadaannya di tengah perkembangan Islam secara global.

Tidak berbeda dengan FI I, FI II juga menghadirkan ragam arsitektur Islam melalui masjid sebagai perwujudan definisi arsitektur Islam saat ini. Yang menyebabkan berbeda adalah tema yang diambil, tema kali ini adalah “Masjid dan Lingkungan”.

Melalui tema ini masyarakat diajak untuk menyaksikan dan memahami masjid, baik di Nusantara maupun di mancanegara yang mampu berperan bagi lingkungannya dan sebaliknya manfaat yang dapat diambil dari keberadaan masjid.

ISLAM DI INDONESIA DALAM KONSTELASI DUNIA

Memasuki bagian arsitektur pengunjung disambut dengan tampilan Masjid Pesantren Pabelan, Magelang. Makna tersirat dari penamplan ini ialah bahwa pada dasarnya masjid adalah tempat untuk bersujud sebagai pernnyataan ibadah yang diperintahkan oleh Allah SWT. Bagi bangunan masjid, yang terpenting adanya sarana bagi seorang muslim untuk menjalankan sholat. Ketika sholat itulah masjid “menjadi masjid”. Mengenai bentukk, lingkunganlah yang memberi bentuk kepada masjid, tiap-tiap lingkungan dapat dan boleh memanfaatkan pengaruh-pengaruh geo-klimatologis, suasana dan sifat kemasyarakatan serta warisan budaya setempat.

Jika kita kembali ke jaman Rasullullah, sebenarnya bentuk masjid belum seperti yang kita lihat saat ini, pada panil menceritakan bentuk awal sebuah masjid, terlihat rekonstruksi dari pasukan Rasul yang sedang berjama’ah dengan sebatang tongkat di depannya.Masjid semacamnya ini disebut masjid awal, terjadi ketika pasukan Rasul sedang berperang dan waktu sholat tiba. Berdasarkan keterangan yang ada, dicoba untuk merekonstruksikan masjid Nabawi di Madinah yang dibangun sendiri oleh Rasullullah SAW, meskipun tidak persis dengan keadaan yang sebenarnya, namun dari gambar tersebut dapat dilihat bahwa masjid ini juga memiliki bentuk yang sangat sederhana, tidak seperti masjid yang bisa kitalihat saat ini. Kesimpulannya, Islam memang tidak menentukan bentuk bangunan, Islam hanya mengatur Sholat.

Dunia Islam tidak mengenal batas negara, kebangsaan, maupun kebudayaan, ikhtiar ini terlihat dari peta dunia yang ada pada bagian depan ruang pamer setelah meja pemandu. Islam mengatasi semua dimensi kehidupan, hanya Ka’bahlah pusat dunia Islam, arah bagisetiap muslim yang menjalankansholat. Dunia Islam bukanlah negara-negara Islam atau cenderung Islam, tetapi seluruh dunia Islam.

NEGARA BARAT

Beberapa negara sahabat juga ikut berpartisipasi dalam bidang pameran arsitektur berupa bahan materi pameran. Negara-negara tersebut adalah : Maroko, India, Jordania, Bosnia-Herzegovina.

Maroko

Negara ini terlihat menonjol dalam pameran dengan mengirim maket masjid. Masjid II di Casablanca. Dibangun pada tahun 1986 sampai sekarang, masjid ini memiliki beberapa keistimewaan, diantaranya atap yang dapat dibuka dan ditutup, menara dengan ketinggian 140 meter. Demikian besarnya maket masjid ini sehingga perlu tempat khusus, selain maket Masjid Istiqlal.

India

Hampir 1000 tahun Islam meresap ke anak benua India sehingga banyak karya arsitektur hebat yang dihasilkan, perkembangan itulah yang sekarang ini dikirim oleh pemerintah India untuk FI II, selain masjid Taj Mahal juga terdapat Masjid Jami di Agra, Delhi, Qutb Minar, dll.

Yordania

Menampilakan foto copy surat Rasullullah kepada Heraclius, Gubernur Syiria pada waktu itu, isi surat tersebut kira-kira sebagai berikut :

Dengan nama Allah Nan Pengasih Lagi Penyayang Dari Muhammad Abdullah sebagai Rassullall kepada Raja Rum, Heraclius. Selamat bagi orang yang mengikuti petunjuk. Masuklah anda ke dalam Islam, maka Allah akan memberikan pahala dua kali lipat bagi anda. Kalau anda menolak, maka atas tanggung jawab andalah dosa-dosa rakyat anda. Wahai Ahlu’l kitab, mari kita menuju kepada kalimat yang satu,yang ada di antara kita, agar kita tidak menyembah siapapun kecuali Allah saja dan tidak menyekutukan Allah dengan siapapun. Dan kita tidak menjadikan sesama sebagai tuhan-tuhan selain Allah. Kalau anda sekalian berpaling, maka saksikanlah bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (Islam).

MASJID SEBAGAI PUSAT LINGKUNGAN

Masjid dan Lingkungan

Tema utama pameran arsitektur diwujudkan dengan menampilkan gambar-gambar masjid di Nusantara, dapat kita lihat bahwa betapa pentingnya masjid pada pandangan ummatnya. Masjid yang diketengahkan dibagi menjadi enam pasang, berdasarkan latar belakangnya. Menempati bagian utama dari ruang pamer dan dibuat berpasangan dengan maksud agar dapat didapat cakrawala yang lebih lebar mengingat tiap-tiap bangunan mempunyai “kepribadian” yang berbeda-beda walaupun dapat disebut satu kelompok.

Masjid-Masjid Kesultanan Melayu

Kesultanan Melayu tidak menganggap masjid sebagai bagian dari istana tapi lebih merupakan bangunan yang mandiri, sitilik dari tempatnya yang selalu di hadapan istana, bahkan dapat dianggap sebagai pengawal istana.

Pertama Masjid Raya Deli dibangun tahu 1906 dan selesai 1909 atas prakarsa Sultan Makmun Ar-Rasjid Perkasa Alam. Masa itu Kesultanan Deli sedang makmur akibaat pelepasan konsesi tanah dan hutan pada para penanam modal dari Eropa. Bangunan ini dirancang oleh arsitek Belanda, AJ Dingemans, oelh sebab itu bentuk masjid ini dipengaruhi oleh pandangan orang Eropa terhadap arsitektur Islam pada masa itu, yaitu mengambil langgam campuran Mogul dan Magribi.

Didirikan pertam kali oleh Sultan pertama Dinasti Qadriah di Pontianak 91771-1808) Masjid Sultan Abdurrahman menurut cerita, masjid ini mulai didirikan tahun 1772, walaupun prasasti di atas mimbar menyatakan tahun 1237H sebagai penyelesaian bangunannya. Letaknya kira-kira 300 meter di depan Istana Qadriah yang umurnya jauh lebih muda.

Masjid-Masjid Kesultanan Bahari

Jika kita pergi ke Festival Istiqlal II dan melihat foto-foto masjid-masjid yang berhadapan langsung dengan laut, perasaan kita akan diajak mengingat kembali sejarah, bahwa dahulu nenek moyang kita berjaya di laut. Keakraban mayarakat dengan laut tersirat dari tempat berdirinya masjid-masjid ini di dekat samudra, sumber kajayaan mereka. Pada masa Kesultanan Ternate dan Riau lebih berorientasi ke luar, wilayah daratnya memang tidak seberapa, tetapi jangkauan kelautannya sangat luas. Sebagai masyarakat niagawan, hubungan mereka ke luar negeri dan dengan bangsa-bangsa asing sangat intensif, bersamaan dengan itu kegiatan intelektualnyapun berkembang dengan pesat. Namun disayangkan bahwa sejarah menenutkan lain, sehingga kejayaan itu semakin surut dalam alam penjajahan.

Jauh sebelum Tumasik menjadi Singapura, penguasa Singapura adalah Pualau Penyengat, Masjid Raya di Pulau Penyengat dibangun tahun 1832 oleh Sultan Abdurrahman, Yang Dipertuan Muda Kesultanan Riau. Melihat pada tahun pembuatannya kemungkinan masjid ini adalah masjid pertama di Indonesia yang menggunakan kubah sebagai penutup atapnya. Meskipun demikian, atap kubahnya masih tunduk pada tata ruang dalam yang sepenuhnya masih Melayu, yaitu pola ‘ruang’ sehingga jumlah kubahnya 17 buah, menyesuaikan jumlah rakaat dalam shoalt fardhu.

Masjid-Masjid Kesultanan Jawa

Masjid Agung Kasepuhan atau dikenal dengan nama Sang Cipta Rasa di Cirebon didirikan pada pertengahan abad ke-15, semasa masjid Agung Demak. Dari denah peninggalan istaana lama (Dalem Agung Pangkungwati) yang ditampilkan, dapat dilihat bahwa perletakkan masjid tidak bertautan dengan kratonnya. Masing-masing menguasai spatialnya sendiri-sendiri. Bahkan alun-alunnya pun lebih cenderung berada didalam lingkungan masjid dari pada di dalam lingkungan keraton.

300 tahun kemudian, dibangun Masjid Keraton Kesultanan Ayogyakarta Hadiningrat yang dibangun oleh Sultan Kamnegkubuwono I di Mataram. Terletak lebih kurang 300 km di pedalaman Jawa Tengah, masjid ini mewakili keadaan yang berbeda, pada masa ini masjid sudah baku menjadi kelengkapan keraton dan dibangun dengan ketrampilan yang lebih baik.

Masjid-Masjid di Pedesaan

Masjid Kampung Rambutin di Lombok dan Kampung Naga di Tasikmalaya, Jawa Barat mencerminkan kehidupan masyarakat pedesaan dengan pertaniannya. Keadaan ini biasanya cenderung melahirkan sikap hidup yang mengarah pada kemapanan. Namun bila dikaji lebih lanjut, dari sikap yang demikian terkandung kesalehan yang mantap. Pada pola pemukiman mereka, masjid selalu menempati bagian yang paling menonjol.

Masjid-Masjid di Lingkungan Pendidikan

Sudah sejak awal perkembangan Islam ,lingkungan masjid biasanya merangkap sebagai ajang pendidikan, di dalam ajaran Islam, pendidikan dan ibadah tidak pernah dipisahkan. Madrasah dan Masjid adalah satu. Ilmu akhirat selalu diimbangi dengan ilmu dunia.

Ketika Pesantren Pabelan didirikan pertama kali tahun 1965 oleh Kyai Haji Hamam Dja’far, masjid ini merupaka modal pertama bagi pesantren ini. Sedang masjidnyasendiri telah ada sejak perlawanan Pangeran Diponegoro melawaj penjajah Belanda. Masuk jaman yang lebih maju, kita menuju Kampus ITB Bandung dimana terdapat Masjid Salman. Dibangun dengan konsep yang mirip tradisi istana Melayu, masjid ini pernah menjadi ‘pengawal’ kampus karena letaknya diseberang gerbang kampus ITB. Sesuai dengan citra ITB, masjidSalman ini terkenal karena bentuknya yang ‘tidak biasa’, ia mencerminkan pengaruh arsitektur modernisme yang memilih bentu-bentuk murni dan nirlambang.

Masjid- Masjid dalam Lingkungan Metropolis

Dalam sejarah Nusantara banyak ditemui kota-kota yang sudah sangat teratur, ketika Eropa sendiri masih diselimuti zaman kegelapan. Salah satu kota yang sejak berdirinya bersifat metropolis, dan kemudian bertahan terus sampai sekarang adalah Makassar atau Ujung Pandang, ibu kota kerajaan kembar Gowa-Talo. Dimasa penjajahan, Makassar bertahan sebagai kota terbesar di kawasan Timur Indonesia, sampai masuk alam kemerdekaan. Masa lalu Ujung Pandang diwakili oleh Masjid Katangka yang dipercaya sebagai masjid tertua di Sulawesi. Dari keletakkannya di sisi barat Bukit Tamalate, tempat kraton lama Gowa dan juga dipercaya sebagai tempat turun temurun nenek moyang orang Gowa, jelas sekali penghargaan Sultan Alauddin dan Sultan Abdullah Awalu’lislam dari Tallo yang masa itu sedang mempersiapkan perkembangan Makassar. Jadi Masjid Katangka adalah bagian penting dari pusat spiritual masyarakat Makassar ketika mereka bersiap membina metropolis Makassar abad ke-17.

Diujung abad 20 ini, ketika Ujung Pandang sedang menata diri kembali untuk menjadi pusat perkembangan setengah Indonesia di sisi Timur, mome ini ditandai kembali dengan didirikannya sebuah Masjid Raya, masjid terbesar sesudah Istiqlal yang berukuran 54×54 meter persegi di atas lahan seluas 9 ha, lengkap dengan kompleks Pusat Kajian Islam, memantapkan kembali pusat spiritual masyarakat Ujung Pandang. Insya Allah nur Islam memancar kembali dengan lebih gemilang di Timur.

Sumber : Laporan Bagian Arsitektur Festival Istiqlal II.
Cuplik dari http://adhisthana.tripod.com/artikel/mesjid.txt

Ada 10.000 Mesjid Yang Masuk Cagar Budaya di Indonesia

March 10th, 2008 by No comments »

Jakarta (ANTARA News) – Jika kriteria untuk menetapkan usia bangunan tua yang mesti dilindungi mengacu pada UU No 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya, maka ada sekitar 10 ribu mesjid tua dan kuno di seluruh Indonesia.

“Dalam UU No 5 Tahun 1992, warisan budaya adalah yang berusia 50 tahun. Ukuran 50 tahun ini terlalu pendek karena berarti ada sekitar 10 ribu mesjid tua di Indonesia,” kata Guru Besar Sejarah Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Prof Dr Azyumardi Azra, dalam Seminar Peranan Masjid dan Keraton pada Festival Masjid Bersejarah dan Keraton di Masjid Istiqlal, Jakarta, Senin.

Sebagai perbandingan, masjid-masjid tua yang dibahas dalam karya Heuken sebagian besar didirikan pada abad 18 dan 19 atau berarti lebih dari 200 tahun, padahal masih banyak masjid yang bahkan lebih tua lagi.

Ia mencontohkan Masjid Baiturrahman Banda Aceh (1292), Masjid Leran Pesucinan, Gresik (1385), Masjid Sawo, Gresik (1398), Masjid Mapauwe, Leihitu Maluku Tengah (1414), Masjid Panjunan, Cirebon (1453), Masjid Agung Demak (1477), Masjid Menara Kudus (1530), Masjid Sultan Suriansyah, Banjarmasin (1526), Masjid Katangka, Gowa Sulsel (1603), Masjid Agung Palembang (1663), Masjid Jami’ Kotawaringin Kalteng (1725), Masjid Besar Kauman Yogyakarta (1773) dan lain-lain.

Ia juga mengatakan kebanyakan arsitektur mesjid tua tersebut didominasi pengaruh lokal, selain adanya nuansa Timur Tengah yang menonjolkan kubah (dome) dan menara, karena sebagian besar masjid ini dibangun oleh masyarakat Muslim lokal, sehingga realitas dan imajinasi lokal sangat berpengaruh.

“Bahkan ada kecenderungan kini mesjid menampilkan corak arsitektur yang pasca-tradisionalisme, seperti terlihat dari arsitektur Masjid Salman ITB atau Masjid Pondok Indah Jakarta,” katanya.

Masjid yang dalam bahasa Arab berarti “tempat bersujud”, lanjut dia, tidak sekedar tempat kegiatan ritual-sosial, tetapi juga merupakan simbol terjelas dari eksistensi peradaban Islam yang tidak saja berfungsi sebagai tempat ibadah, namun juga sebagai kegiatan pendidikan, politik, atau kesehatan.

Sementara itu, Ketua Umum Pimpinan Pusat Dewan Masjid Indonesia, KH Dr Tarmizi Taher menyerukan umat Islam agar tak meninggalkan masjid dan mulai melakukan pemberdayaan masjid sebagai tempat perubahan umat untuk kebangkitan Islam.

Ia juga meminta generasi muda Islam agar menjadi pendakwah Islam yang terdidik dan terhindar dari “kelompok garis keras” yang menciptakan masyarakat beradab dengan masjid sebagai rumah peradaban. (*)

Sumber http://www.antara.co.id/arc/2007/6/12/ada-10000-mesjid-yang-masuk-cagar-budaya-di-indonesia/

Masjid Harus Jadi Pusat Persemaian Peradaban Islam

February 10th, 2008 by No comments »

Jember (ANTARA News) – Keberadaan masjid sebagai tempat ibadah umat Islam hendaknya menjadi pusat dari persemaian perdaban Islam yang sangat ideal karena menyangkut berbagai persoalan bisa dibicarakan di dalam masjid.

“Kalau saya katakan masjid sebagai persemaian peradaban Islam, itu memang super ideal, tapi seperti itulah yang seharusnya terjadi,” kata aktivis Forum Komunikasi Masjid Peduli Umat (FKMPU) Jakarta, Ustadz Muhammad Tamam dalam seminar di Jember, Jatim, Sabtu.

Seminar bertema, “Peran Kantor Berita dalam Membangun Peradaban Islam” yang diselenggarakan Lembaga Dakwah Kampus (LDK) mahasiswa Universitas Jember (Unej) itu juga menghadirkan pembicara, Direktur Pemberitaan LKBN ANTARA, Drs M Saiful Hadi Cholid.

Menurut Tamam, di zaman Rasulullah, masjid memiliki peran sebagai majelis peradilan ketika seseorang melakukan perbuatan yang melanggar hukum agama, sebagai tempat pendidikan Islam sebagaimana sahabat yang banyak menyerap ilmu dari Nabi Muhammad saat di masjid.

“Fungsi lainnya adalah, masjid sebagai tempat berakhlaq mulia dan berorientasi menyelesaikan masalah. Contohnya ketika ada orang Badui buang air kecil di masjid, Rasulullah melarang sahabat menghakimi orang itu karena orang Badui itu memang tidak tahu etika di masjid,” katanya.

Pada saat itulah nabi tampil sebagai penyelesai masalah dengan mengambil air untuk membersihkan lantai masjid yang terkena najis karena kotoran orang Badui tersebut.

“Tapi realitas saat ini belum menunjukkan fungsi masjid yang ideal sebagaimana di zaman Rasulullah itu. Padahal kalau diikuti, fungsi masjid di zaman Rasul itu sederhana tapi menunjukkan suatu peradaban yang tinggi,” katanya.

Mengenai nilai-nilai dalam Islam, Tamam mengemukakan bahwa Islam memiliki sedikitnya dua peradaban agung yang di keyakinan lain mungkin tidak ditemui, yakni konsep “rahmatan lil `aalamiin” (memberi rahmat bagi seluruh alam) dan “ukhuwah Islamiah” (persaudaraan sesama Islam).

“Saya kira konsep “rahmatan lil `aalamiin” itu adalah tade mark Islam. Itu adalah peradaban tinggi karena Islam melindungi seluruh isi alam ini,” kata lelaki kelahiran Yogyakarta itu.

Ia mengemukakan bahwa untuk “ukhuwah Islamiah” juga sebagai peradaban karena menunjukkan adanya ikatan dasar sesama muslim dalam ketundukan kepada Allah. Selain itu “ukhuwah Islamiah” juga menghilangkan permusuhan yang tidak perlu.

“Memang ada permusuhan yang perlu, yakni terhadap syetan. Kalau sesama muslim nabi mencontohkan bagaimana beliau menyatukan orang-orang Ansor (penduduk Madinah) dengan kaum Muhajirin (orang-orang pendatang),” katanya.

Sementara Saiful Hadi mengemukakan bahwa peran masjid dalam upaya membangun peradaban Islam bisa dilihat dari konsep “rahmatan lil `aalamiin”. Menurut dia, seharusnya konsep tersebut dibangun dan dimulai dari masjid.

“Menurut saya masjid bukan hanya untuk tempat salat, tapi juga untuk berdiskusi atau bahkan tempat umat Islam. Di sinilah peran masjid harus diperluas sebagaimana yang seharusnya menjadi peran masjid itu sendiri,” ujarnya.

Dikatakannya, tidak seharusnya masjid itu dikunci sehingga umat leluasa keluar masuk ke pusat peradaban tersebut. Kalau kemudian muncul kenyataan, ada pencurian di masjid, maka hal itu menjadi tugas semua elemen masyarakat untuk menyadarkan umat.(*)

Sumber: Antara