Masjid Mujahidin Pontianak Gelar “Sajadah Panjang”

April 29th, 2008 by agus No comments »

Pontianak (ANTARA News) – Untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW, Yayasan Mujahidin Pontianak akan menggelar acara kegiatan Sajadah Panjang bersama Jama`ah Sajadah Fajar sebuah forum umat yang menyadari pentingnya shalat berjamaah, di Masjid Raya Mujahidin Pontianak, Kamis.

Wakil Sekretaris Yayasan Mujahidin, M Joni Abu, di Pontianak, Rabu, mengatakan bahwa Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW kali ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya yang hanya menampilkan acara Tabligh pada siang hari. Acara kali ini dilakukan serangkaian dengan shalat Subuh.

Pada kesempatan yang sama, ketua Panitia Peringatan Maulid Nabi Masjid Mujahidin, Mujid Taba mengatakan acara tersebut dimulai dengan shalat Subuh berjamaah disertai ceramah oleh Pengasuh Majlis Hati Yayasan Darul Izzah Depok, Ustadz. H Ibnu Jarir, Lc, di masjid terbesar di Kalimantan Barat tersebut.

Ketika ditanya mengenai alasan pelaksanaannya dilakukan pada waktu Subuh, Mujid mengatakan bahwa waktu Subuh adalah waktu yang sulit untuk orang bangun shalat. Kalau Subuh bisa shalat di masjid tentu shalat lain pun akan mudah.

“Tujuan acara Sajadah Panjang ini adalah mengajak umat Islam memakmurkan masjid, sebagaimana yang diperintahkan oleh Nabi Muhammad,” katanya.

Shalat merupakan ibadah yang tidak pernah ditinggal Nabi yang harus kita contoh. Maka tema tentang shalat berjamaah dan memakmurkan masjid tentu tetap sesuai dengan acara peringatan Maulid Nabi Muhammad, 12 Rabiul Awal 1429 Hijriyah.

Acara tersebut dimulai pukul 04.30 WIB, dan dihadiri berbagai kalangan. Dari kalangan pelajar telah diundang beberapa perguruan baik Mujahidin, Muhammmadiyah, Al-Azhar, dan beberapa sekolah lainnya. Juga akan diikuti dari berbagai jama`ah masjid yang ada di Kota pontianak.

Mujid memperkirakan Masjid Raya Mujahidin akan penuh oleh jama`ah. Acara Sajadah Panjang didukung oleh Dewan Masjid Indonesia (DMI) Kota Pontianak, Majlis Hati dan Radio Mujahidin FM.

Sekaligus dalam kesempatan tersebut, mengenalkan Sajadah Fajar yang merupakan forum bagi umat Islam untuk mendakwahkan pentingnya sholat berjamaah.

Sajadah fajar merupakan sejenis paguyuban ataupun forum umat Islam yang menyadari pentingnya shalat berjamaah. Forum yang dibentuk pada 18 November 2007, saat ini anggotanya mencapai 400 anggota.

“Padahal mulanya hanya belasan orang dan sangat berat sekali mengajak kaum muslimin untuk melaksanakan shalat berjamaah di masjid,” kata Mujid.

Program yang mulai berjalan sekarang adalah shalat Subuh keliling yang diadakan di masjid-masjid yang ada di Kota Pontianak. Target selanjutnya Sajadah Fajar ini sampai ke kampung-kampung dan harapannya semua kaum muslimin sadar dan mau untuk melaksanakan shalat di masjid.(*)

Sumber: Antara

Masjid Al Karomah Martapura

April 29th, 2008 by No comments »

SEBAGAI pusat Kerajaan Banjar, Martapura tercatat menjadi saksi 12 sultan yang memerintah. Pada waktu itu Mesjid berfungsi sebagai tempat peribadatan, dakwah Islamiyah, integrasi umat Islam dan markas atau benteng pertahanan para pejuang dalam menantang Belanda.

Akibat pembakaran Kampung Pasayangan dan Masjid Martapura, muncul keinginan membangun Masjid yang lebih besar. Tahun 1280 Hijtiyah atau 1863 Masehi, pembangunan Masjid pun dimulai.

Menurut riwayatnya, Datuk Landak dipercaya untuk mencari kayu Ulin sebagai sokoguru masjid, ke daerah Barito Kalimantan Tengah. Setelah tiang ulin berada di lokasi bangunan Masjid lalu disepakati.

Dilihat dari segi arsitekturnya, bentuk Masjid Agung Al Karomah Martapura mengikuti Masjid Demak Buatan Sunan Kalijaga. Miniaturnya dibawa utusan Desa Dalam Pagar dan ukurannya sangat rapi serta mudah disesuaikan dengan bangunan sebenarnya sebab telah memakai skala.

Sampai saat ini bentuk bangunan Masjid menurut KH Halilul Rahman, Sekretaris Umum di kepengurusan Masjid sudah tiga kali rehab. Dengan mengikuti bentuk bangunan modern dan Eropa, sekarang Masjid Agung Al Karomah Martapura terlihat lebih megah.

Meski bergaya modern, empat tiang Ulin yang menjadi Saka Guru peninggalan bangunan pertama Masjid masih tegak di tengah. Tiang ini dikelilingi puluhan tiang beton yang menyebar di dalam Masjid.

Arsitektur Masjid Agung Al Karomah Martapura yang menelan biaya Rp27 miliar pada rehab terakhir sekitar tahun 2004, banyak mengadopsi bentuk Timur Tengah. Seperti atap kubah bawang dan ornamen gaya Belanda.

Semula atap Masjid berbentuk kerucut dengan konstruksi beratap tumpang, bergaya Masjid tradisional Banjar. Setelah beberapa kali rehab akhirnya berubah menjadi bentuk kubah.

Bila arsitektur bangunan banyak berubah, namun mimbar tempat khatib berkhutbah yang berumur lebih satu abad sampai sekarang berfungsi.

Mimbar berukiran untaian kembang dan berbentuk panggung dilengkapi tangga sampai sekarang masih berfungsi dan diarsiteki HM Musyafa.

Pola ruang pada Masjid Agung Al Karomah juga mengadopsi pola ruang dari arsitektur Masjid Agung Demak yang dibawa bersamaan dengan masuknya agama Islam ke daerah ini oleh Khatib Dayan. Karena mengalami perluasan arsitektur Masjid Agung Demak hanya tersisa dari empat tiang ulin atau disebut juga tiang guru empat dari bangunan lama.

Tiang guru adalah tiang-tiang yang melingkupi ruang cella atau ruang keramat. Ruang cella yang dilingkupi tiang-tiang guru terdapat di depan ruang mihrab, yang berarti secara kosmologi cella lebih penting dari mihrab.

Sejarahnya tiang guru empat menggunakan tali alias seradang yang ditarik beramai-ramai oleh Datuk Landak bersama masyarakat. Atas kodrat dan iradat Tuhan YME tiang Guru Empat didirikan. Masjid pertama kali dibangun berukuran 37,5 meter x 37,5 meter

Photo: Jalan-jalan Terus
Sumber: Masjid Al Karomah Martapura

Masjid Agung Surabaya

April 29th, 2008 by aidil No comments »

Masjid, selain sebagai tempat ibadah, tentu saja memiliki peran yang signifikan dalam berbagai kajian kehidupan multi dimensi. Apalagi jika kemudian masjid memiliki akses ke Internet sebagai sumber informasi tanpa batas. Untuk itulah maka Masjid Agung Surabaya Al Akbar melengkapi dirinya dengan Wi-Fi (hotspot) Internet berkecepatan tinggi.’

Layanan hotspot Internet tersebut, yang difasilitasi oleh Telkom Speedy, dapat dinikmati oleh masyarakat dan jamaah dalam radius hingga 100 meter dari Masjid Al Akbar tersebut. “Kehadiran internet di area Masjid Agung Al Akbar ini akan mengoptimalkan akses informasi sebagai sarana yang terbaik untuk membangun masyarakat di bidang pendidikan, pengetahuan dan terutama wawasan keagamaan,” ujar Djadi Soegiarto, Manager Komunikasi Divre V melalui keterangan tertulis yang diterima detikINET, Selasa (11/9/2007).

Dukungan Telkom dalam membangun infrastruktur hotspot Internet di masjid yang berdaya tampung 30 ribu jamaah tersebut, antara lain dengan penyediaan modem wireless access point, penyediaan akses Internet Speedy cuma-cuma hingga akhir tahun 2007 dan penyediaan line akses Internet di sejumlah lokasi seputaran Masjid.

“Dengan dipasangnya hotspot Internet di Masjid Agung Surabaya tersebut, maka ini adalah masjid pertama di Indonesia yang dilengkapi Wi-Fi Speedy Hot Spot,” ujar Djadi. Penandatanganan kerjasama antara Telkom dengan pengelola Masjid Agung Surabaya Al Akbar tersebut diwakili oleh Executive GM Telkom Divre V Mas’ud Khamid dan Direktur Utama Masjid Agung Surabaya Endro Siswantoro.

Tentu saja fasilitas hotspot Internet yang disediakan oleh Masjid Agung Surabaya ini dapat menjadi contoh bagi masjid lain di Indonesia. Apalagi selama bulan puasa, jamaah bisa menggali ilmu dunia akhirat tanpa batas sambil menunggu saat berbuka puasa.

Sumber: Detikcom

Masjid Istiqlal Jakarta

April 29th, 2008 by agus No comments »

Masjid Istiqlal Jakarta

Sebagai negara dengan komunitas muslim terbesar di dunia, Indonesia memainkan peran strategis dalam kancah pergaulan dunia. Usulan, saran dan kritik dari Indonesia tentang berbagai permasalahan Islam diberbagai belahan dunia, selalu dinantikan dan mendapat respon positif.

Sejalan itu, masyarakat Islam di dalam negeri yang terdiri dari berbagai kelompok juga memiliki keanekaragaman yang unik, sekaligus pemahaman yang berbeda. Tak jarang antara kelompok tersebut sering berkonflik, meski tidak dalam bentuk fisik dan skala luas. Sementara dalam skala global (penjuru dunia), berkembang isu-isu yang kurang menyenangkan tentang Islam. Di beberapa tempat, Islam bahkan dianggap sebagai agama yang memperbolehkan tindak kekerasan dan lekat dengan cap terorisme.

Sementara, tidak sedikit orang yang memahami dan mendalami Islam belum cukup mampu menjelaskan tentang keagungan dan kebesaran agama yang rahmatan lil alamiiin ini. Disisi lain, pengaruh media begitu gencar menggambarkan Islam secara “hitam-putih”, sehingga tidak sedikit orang Islam sendiri merasa asing dengan agamanya.

Kondisi ini secara tidak langsung sedang dan telah terjadi di Indonesia, untuk itu dibutuhkan media informasi yang bisa menyelaraskan isu dan menyebarkan informasi Islam secara benar. Tak hanya itu, media tersebut sekaligus bisa menjadi forum komunikasi antara kelompok Islam yang ada di Indonesia, dan tak menutup kemungkinan Islam di seluruh dunia.

Sejalan dengan itu, Istiqlal sebagai mesjid terbesar di Indonesia dan menjadi symbol dari representasi muslim tanah air memainkan peranan strategis dalam menyatukan visi dan misi dari nuansa Islam di Indonesia. Dari sinilah Yayasan Dunia Merdeka (YDM)yang ditunjuk langsung oleh Menteri Agama RI melalui SK untuk mengelola Masjid Istiqlal dengan mendirikan “World Moslem E-Center & World Moslem Communities Gallery” yang salah satu pogramnya pengembangkan portal www.masjidistiqlal.com menjadi media komunikasi yang interaktif antara komunitas/pergerakan muslim di Indonesia dengan berbagai komunitas muslim di seluruh dunia, termasuk didalamnya negara-negara non-OKI, seperti Amerika, Eropa, Australia dan Afrika.

Masjid Cheng Hoo

April 19th, 2008 by aidil No comments »

Masjid Cheng Hoo didirikan 10 Maret 2002, adalah Masjid bernuansa Muslim Tionghoa yang berlokasi di Jalan Gading, Ketabang, Genteng, Surabaya atau 1.000 m utara Gedung Baikota Surabaya. Masjid yang didirikan atas prakarsa para sesepuh, penasehat, pengurus PITI, dan pengurus Yayasan Haji Muhammad Cheng Ho Indonesia Jawa Timur serta tokoh masyarakat Tionghoa di Surabaya. Pembangunan masjid ini diawali dengan peletakkan batu pertama 15 Oktober 2001 bertepatan dengan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW. Sedangkan pembangunannya baru dilaksanakan 10 Maret 2002 dan baru diresmikan pada 13 Oktober 2002.

Masjid Mantingan

April 19th, 2008 by aidil No comments »

Masjid Sholihin adalah sebuah masjid di desa Mantingan, kecamatan Tahunan, kabupaten Jepara.

Didirikan dengan lantai tinggi ditutup dengan ubin bikinan Tiongkok, dan demikian juga dengan undak-undakannya. Semua didatangkan dari Makao. Bangunan atap termasuk bubungan adalah gaya Tiongkok. Dinding luar dan dalam dihiasi dengan piring tembikar bergambar biru, sedang dinding sebelah tempat imam dan khatib dihiasi dengan relief-relief persegi bergambar margasatwa, dan penari penari yang dipahat pada batu cadas kuning tua. Pengawasan pekerjaan pembangunan masjid ini tak lain daripada Babah Liem Mo Han.

Di dalam komplek masjid terdapat makam Sultan Hadlirin, suami dari Kanjeng Ratu Kalinyamat dan adik ipar Sultan Trenggano, penguasa Demak yang terakhir. Selain itu terdapat pula makam waliullah Mbah Abdul Jalil, yang disebut-sebut sebagai nama lain Syekh Siti Jenar.

Sumber : Masjid Mantingan

Masjid Sultan Suriansyah

April 19th, 2008 by aidil No comments »

Masjid Sultan Suriansyah adalah sebuah masjid bersejarah yang merupakan masjid tertua di Kalimantan Selatan. Masjid ini dibangun di masa pemerintahan Sultan Suriansyah (pemerintahan 1526- 1550), raja Banjar pertama yang memeluk agama Islam. Masjid ini terletak diKelurahan Kuin Utara, Kecamatan Banjarmasin Utara, Kota Banjarmasin.

Bentuk arsitektur dengan konstruksi panggung dan beratap tumpang, merupakan masjid bergaya tradisional Banjar. Masjid bergaya tradisional Banjar pada bagian mihrabnya memiliki atap sendiri terpisah dengan bangunan induk. Masjid ini didirikan di tepi sungai Kuin.

Masjid Agung Kauman

April 19th, 2008 by aidil No comments »

Masjid yang juga dikenal dengan nama Masjid Gedhe Kauman ini terletak di sebelah barat Alun- Alun Utara yang secara simbolis merupakan transendensi untuk menunjukkan keberadaan Sultan, yaitu di samping pimpinan perang atau penguasa pemerintahan (senopati ing ngalaga), juga sebagai sayidin panatagama khalifatulah (wakil Allah) di dunia di dalam memimpin agama (panatagama) di kasultanan.

Seluruh kompleks Masjid ini dikelilingi oleh pagar tembok tinggi  di mana pada bagian utara terdapat Dalem Pengulon yaitu tempat tinggal serta kantor abdi dalem pengulu, serta di sebelah barat masjid terdapat beberapa makam yang diantaranya adalah makam Nyai Ahmad Dahlan. Abdi dalem pengulu inilah yang membawahi para abdi dalem bidang keagamaan lainnya, seperti abdi dalem pamethakan, suronoto, modin.

Selengkapnya di Masjid Agung Kauman

Masjid Syuhada

April 19th, 2008 by No comments »

Masjid Syuhada Yogyakarta menjadi satu dari saksi sejarah masyarakat muslim dalam memperjuangkan kemerdekaan. Masjid Syuhada menyimpan candrasengkala sekaligus sebagai peringatan Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia sehingga hal itu digambarkan dalam bagian-bagian penting bangunan seperti 17 anak tangga di bagian depan, delapan segi tiang gapuranya dan empatkupel bawah serta lima kupel atas.

Keseluruhan bangunan terdiri tiga lantai, di bawah untuk ruangan kuliah, dilengkapi 20 jendela yang diharapkan menjadi peringatan atas 20 sifat Allah SWT. Di lantai dua untuk ruang shalat bagi kaum perempuan, terdapat dua tiang yang seolah-olah menyangga bangunan yang menggambarkan dua buah iktikad manusia. Sedang di lantai tiga sebagai ruang shalat utama, termasuk shalat Jumat di mihrabnya terdapat lima lubang angin yang memberi gambaran sekaligus mengingatkan kepada masyarakat muslim rukun Islam.

Pada 17 Agustus 1950 menetapkan garis kiblat di atas tanah yang sekarang berdiri bangunan representatif. Sedangkan pada 23 September 1950 atau 11 Dzulhijjah 1369 bertepatan dengan Hari Raya Qurban kedua Sri Sultan Hamengku Buwono IX yang ketika itu selaku Menteri Pertahanan Republik Indonesia, meletakkan batu pertama pembangunan masjid. Dua tahun kemudian tepatnya pada 20 September 1952 seluruh bangunan selesai dan dilakukan pembukaan secara resmi yang bertepatan dengan Tahun Baru Hijriyah, 1 Muharram 1372.

Sumber : Masjid Syuhada Yogya

Masjid Kotagede

April 19th, 2008 by aidil No comments »

Bangunan inti masjid merupakan bangunan Jawa berbentuk limasan. Cirinya dapat dilihat pada atap yang berbentuk limas dan ruangan yang terbagi dua, yaitu inti dan serambi.

Pada bagian luar inti masjid terdapat bedug tua yang bersebelahan dengan kentongan. Bedug yang usianya tak kalah tua dengan masjidnya itu merupakan hadiah dari seseorang bernama Nyai Pringgit yang berasal dari desa Dondong, wilayah di Kabupaten Kulon Progo. Atas jasanya memberikan bedug itu, keturunan Nyai Pringgit diberi hak untuk menempati wilayah sekitar masjid yang kemudian dinamai Dondongan. Sementara bedug pemberiannya, hingga kini masih dibunyikan sebagai penanda waktu sholat.

Masjid yang usianya telah ratusan tahun itu hingga kini masih terlihat hidup. Warga setempat masih menggunakannya sebagai tempat melaksanakan kegiatan keagamaan. Bila datang saat waktu sholat, akan dilihat puluhan warga menunaikan ibadah. Di luar waktu sholat, banyak warga yang menggunakan masjid untuk tempat berkomunikasi, belajar Al Qur’an, dan lain-lain.

Sumber : Masjid Kotagede