April 29th, 2008
No comments »

Sebagai negara dengan komunitas muslim terbesar di dunia, Indonesia memainkan peran strategis dalam kancah pergaulan dunia. Usulan, saran dan kritik dari Indonesia tentang berbagai permasalahan Islam diberbagai belahan dunia, selalu dinantikan dan mendapat respon positif.
Sejalan itu, masyarakat Islam di dalam negeri yang terdiri dari berbagai kelompok juga memiliki keanekaragaman yang unik, sekaligus pemahaman yang berbeda. Tak jarang antara kelompok tersebut sering berkonflik, meski tidak dalam bentuk fisik dan skala luas. Sementara dalam skala global (penjuru dunia), berkembang isu-isu yang kurang menyenangkan tentang Islam. Di beberapa tempat, Islam bahkan dianggap sebagai agama yang memperbolehkan tindak kekerasan dan lekat dengan cap terorisme.
Sementara, tidak sedikit orang yang memahami dan mendalami Islam belum cukup mampu menjelaskan tentang keagungan dan kebesaran agama yang rahmatan lil alamiiin ini. Disisi lain, pengaruh media begitu gencar menggambarkan Islam secara “hitam-putih”, sehingga tidak sedikit orang Islam sendiri merasa asing dengan agamanya.
Kondisi ini secara tidak langsung sedang dan telah terjadi di Indonesia, untuk itu dibutuhkan media informasi yang bisa menyelaraskan isu dan menyebarkan informasi Islam secara benar. Tak hanya itu, media tersebut sekaligus bisa menjadi forum komunikasi antara kelompok Islam yang ada di Indonesia, dan tak menutup kemungkinan Islam di seluruh dunia.
Sejalan dengan itu, Istiqlal sebagai mesjid terbesar di Indonesia dan menjadi symbol dari representasi muslim tanah air memainkan peranan strategis dalam menyatukan visi dan misi dari nuansa Islam di Indonesia. Dari sinilah Yayasan Dunia Merdeka (YDM)yang ditunjuk langsung oleh Menteri Agama RI melalui SK untuk mengelola Masjid Istiqlal dengan mendirikan “World Moslem E-Center & World Moslem Communities Gallery” yang salah satu pogramnya pengembangkan portal www.masjidistiqlal.com menjadi media komunikasi yang interaktif antara komunitas/pergerakan muslim di Indonesia dengan berbagai komunitas muslim di seluruh dunia, termasuk didalamnya negara-negara non-OKI, seperti Amerika, Eropa, Australia dan Afrika.
April 19th, 2008
No comments »
Masjid Cheng Hoo didirikan 10 Maret 2002, adalah Masjid bernuansa Muslim Tionghoa yang berlokasi di Jalan Gading, Ketabang, Genteng, Surabaya atau 1.000 m utara Gedung Baikota Surabaya. Masjid yang didirikan atas prakarsa para sesepuh, penasehat, pengurus PITI, dan pengurus Yayasan Haji Muhammad Cheng Ho Indonesia Jawa Timur serta tokoh masyarakat Tionghoa di Surabaya. Pembangunan masjid ini diawali dengan peletakkan batu pertama 15 Oktober 2001 bertepatan dengan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW. Sedangkan pembangunannya baru dilaksanakan 10 Maret 2002 dan baru diresmikan pada 13 Oktober 2002.
April 19th, 2008
No comments »
Masjid Sholihin adalah sebuah masjid di desa Mantingan, kecamatan Tahunan, kabupaten Jepara.
Didirikan dengan lantai tinggi ditutup dengan ubin bikinan Tiongkok, dan demikian juga dengan undak-undakannya. Semua didatangkan dari Makao. Bangunan atap termasuk bubungan adalah gaya Tiongkok. Dinding luar dan dalam dihiasi dengan piring tembikar bergambar biru, sedang dinding sebelah tempat imam dan khatib dihiasi dengan relief-relief persegi bergambar margasatwa, dan penari penari yang dipahat pada batu cadas kuning tua. Pengawasan pekerjaan pembangunan masjid ini tak lain daripada Babah Liem Mo Han.
Di dalam komplek masjid terdapat makam Sultan Hadlirin, suami dari Kanjeng Ratu Kalinyamat dan adik ipar Sultan Trenggano, penguasa Demak yang terakhir. Selain itu terdapat pula makam waliullah Mbah Abdul Jalil, yang disebut-sebut sebagai nama lain Syekh Siti Jenar.
Sumber : Masjid Mantingan
April 19th, 2008
No comments »
Masjid Sultan Suriansyah adalah sebuah masjid bersejarah yang merupakan masjid tertua di Kalimantan Selatan. Masjid ini dibangun di masa pemerintahan Sultan Suriansyah (pemerintahan 1526- 1550), raja Banjar pertama yang memeluk agama Islam. Masjid ini terletak diKelurahan Kuin Utara, Kecamatan Banjarmasin Utara, Kota Banjarmasin.
Bentuk arsitektur dengan konstruksi panggung dan beratap tumpang, merupakan masjid bergaya tradisional Banjar. Masjid bergaya tradisional Banjar pada bagian mihrabnya memiliki atap sendiri terpisah dengan bangunan induk. Masjid ini didirikan di tepi sungai Kuin.
April 19th, 2008
No comments »
Masjid yang juga dikenal dengan nama Masjid Gedhe Kauman ini terletak di sebelah barat Alun- Alun Utara yang secara simbolis merupakan transendensi untuk menunjukkan keberadaan Sultan, yaitu di samping pimpinan perang atau penguasa pemerintahan (senopati ing ngalaga), juga sebagai sayidin panatagama khalifatulah (wakil Allah) di dunia di dalam memimpin agama (panatagama) di kasultanan.
Seluruh kompleks Masjid ini dikelilingi oleh pagar tembok tinggi di mana pada bagian utara terdapat Dalem Pengulon yaitu tempat tinggal serta kantor abdi dalem pengulu, serta di sebelah barat masjid terdapat beberapa makam yang diantaranya adalah makam Nyai Ahmad Dahlan. Abdi dalem pengulu inilah yang membawahi para abdi dalem bidang keagamaan lainnya, seperti abdi dalem pamethakan, suronoto, modin.
Selengkapnya di Masjid Agung Kauman
April 19th, 2008
No comments »
Masjid Syuhada Yogyakarta menjadi satu dari saksi sejarah masyarakat muslim dalam memperjuangkan kemerdekaan. Masjid Syuhada menyimpan candrasengkala sekaligus sebagai peringatan Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia sehingga hal itu digambarkan dalam bagian-bagian penting bangunan seperti 17 anak tangga di bagian depan, delapan segi tiang gapuranya dan empatkupel bawah serta lima kupel atas.
Keseluruhan bangunan terdiri tiga lantai, di bawah untuk ruangan kuliah, dilengkapi 20 jendela yang diharapkan menjadi peringatan atas 20 sifat Allah SWT. Di lantai dua untuk ruang shalat bagi kaum perempuan, terdapat dua tiang yang seolah-olah menyangga bangunan yang menggambarkan dua buah iktikad manusia. Sedang di lantai tiga sebagai ruang shalat utama, termasuk shalat Jumat di mihrabnya terdapat lima lubang angin yang memberi gambaran sekaligus mengingatkan kepada masyarakat muslim rukun Islam.
Pada 17 Agustus 1950 menetapkan garis kiblat di atas tanah yang sekarang berdiri bangunan representatif. Sedangkan pada 23 September 1950 atau 11 Dzulhijjah 1369 bertepatan dengan Hari Raya Qurban kedua Sri Sultan Hamengku Buwono IX yang ketika itu selaku Menteri Pertahanan Republik Indonesia, meletakkan batu pertama pembangunan masjid. Dua tahun kemudian tepatnya pada 20 September 1952 seluruh bangunan selesai dan dilakukan pembukaan secara resmi yang bertepatan dengan Tahun Baru Hijriyah, 1 Muharram 1372.
Sumber : Masjid Syuhada Yogya
April 19th, 2008
No comments »
Bangunan inti masjid merupakan bangunan Jawa berbentuk limasan. Cirinya dapat dilihat pada atap yang berbentuk limas dan ruangan yang terbagi dua, yaitu inti dan serambi.
Pada bagian luar inti masjid terdapat bedug tua yang bersebelahan dengan kentongan. Bedug yang usianya tak kalah tua dengan masjidnya itu merupakan hadiah dari seseorang bernama Nyai Pringgit yang berasal dari desa Dondong, wilayah di Kabupaten Kulon Progo. Atas jasanya memberikan bedug itu, keturunan Nyai Pringgit diberi hak untuk menempati wilayah sekitar masjid yang kemudian dinamai Dondongan. Sementara bedug pemberiannya, hingga kini masih dibunyikan sebagai penanda waktu sholat.
Masjid yang usianya telah ratusan tahun itu hingga kini masih terlihat hidup. Warga setempat masih menggunakannya sebagai tempat melaksanakan kegiatan keagamaan. Bila datang saat waktu sholat, akan dilihat puluhan warga menunaikan ibadah. Di luar waktu sholat, banyak warga yang menggunakan masjid untuk tempat berkomunikasi, belajar Al Qur’an, dan lain-lain.
Sumber : Masjid Kotagede
April 19th, 2008
No comments »
Masjid yang terletak di Jl. Sultan Thaha, Telanaipura, Jambi ini memiliki keunikan, yaitu masjid ini tidak berdinding dan memiliki banyak tiang, sehingga terkenal dengan sebutan Mesjid Seribu Tiang.
Mesjid yang merupakan mesjid terbesar di kota Jambi ini menjadi pusat kegiatan dan dakwah islam. Pada masa lalu, mesjid ini diduga merupakan pusat Kesultanan Jambi.
April 19th, 2008
No comments »
Masjid yang terletak tak Jauh dari Plaza Benteng Kuto Besak, di kota Palembang, Sumatera Selatan ini dibangun pada masa kepemimpinan Sultan Mahmud Badarudin I Jayo Wikramo, tepatnya tahun 1738.
Meski digarap oleh seorang arsitek Eropa, pengaruh Cina ikut muncul pada arsitektur mesjid ini. Hal itu ditandai oleh bentukan limas dan hiasan ornamen khas Cina pada sejumlah atapnya. Paduan dua budaya ini menjadi ciri khas Mesjid Agung Palembang dan membuat banyak pelancong terkagum-kagum pada keindahan mesjid ini.
April 17th, 2008
No comments »
Sejarah masjid Shirathal Mustaqiem, nyaris setua usia Samarinda.Setelah masuknya Islam lewat syiar Islam yang dikenalkan pedagang dari Sulawesi Selatan (Sulsel), tak lama setelah itu, sebuah masjid didirikan di pusat berdirinya Samarinda, yang dikenal pula sebagai kampung dagang di dekat Pelabuhan atau Jembatan Aji hilir Sungai Mahakam, Samarinda Seberang.
Masjid yang didirikan Sayyid Abdurrahman Bin Muhammad Assegaf atau dikenal sebagai Pangeran Bendahara, Kapitan Jaya, Petta Loloncong dan Usulonna ini hingga saat ini menjadi pusat kegiatan-kegiatan masyarakat Samarinda Seberang. Kendati dua masjid besar telah didirikan di sekitar kecamatan tersebut namun daya tarik masjid tua ini tetap penuh pesona. Khususnya pada Ramadan maupun Idul Fitri.
Selain kegiatan peribadatan, masjid yang pernah meraih juara dua festival masjid bersejarah ini memiliki fungsi pendidikan melalui sarana belajar membaca dan mengaji Al-Quran. Pada tahun 1952 didirikan sekolah madrasah dan tahun 1972 didirikan pula SMP Hasanuddin. Tahun 1956 ayah Walikota Samarinda Achmad Amins, H Saharuddin Mappe pernah menjadi guru Agama di Madrasah Dinil Islamiyah (MDI) ini. MDI ini mengajarkan berbagai mata pelajaran yakni ilmu tauhid, fiqhi, bahasa Arab dan ilmu-ilmu yang bernuansa Islam.
Sumber : pesona masjid shirathal mustaqiem