Masjid Sultan Riau di Pulau Engku Putri

August 6th, 2010 by No comments »

Tanjungpinang (ANTARA News) – “Belum sah pergi ke Tanjungpinang, jika tidak singgah ke Pulau Penyengat. Belum sah bagi umat Islam yang sudah ke Tanjungpinang, jika belum menyempatkan diri untuk singgah dan sholat di Masjid Raya Sultan Riau di Pulau Penyengat”.

Itulah beberapa ungkapan sebagian warga Tanjungpinang, Kepulauan Riau (Kepri), kepada tamu yang datang dari daerah lain, maupun warga lainnya di Indonesia.

Pulau Penyengat terletak di bagian barat Kota Tanjungpinang, dapat ditempuh dengan perjalanan laut lebih kurang 15 menit dengan menggunakan “pompong” atau kapal motor kecil dari Pelantar Penyengat yang bersebelahan dengan pelabuhan internasional Sri Bintan Pura.

Cukup merogoh kocek dengan uang Rp5.000, sudah bisa sampai di pulau yang menyimpan sejarah kebesaran Kerajaan Riau-Lingga pada abad ke-18 tersebut di ibu kota Provinsi Kepri itu.

Ada sekitar 17 situs sejarah Kerajaan Riau-Lingga yang bisa dilihat peninggalannya oleh warga atau wisatawan yang berkunjung ke Pulau Penyengat, diantaranya Masjid Sultan Riau yang langsung menyambut siapapun tamu yang datang di pelabuhan beton Pulau Penyengat dari Tanjungpinang.

Masjid Sultan Riau, dibangun pada 1803 Masehi oleh Sultan Mahmud Syah dan direnovasi oleh Yang Dipertuan Muda Riau VII Raja Abdul Rahman pada 1832 Masehi.

Masjid yang masih berdiri kokoh dan digunakan sehari-hari untuk ibadah sholat bagi umat Islam tersebut, seolah menarik pendatang dari umat Islam untuk segera menunaikan sholat dan mengetahui sejarah Masjid yang konon sebagian bahan bakunya berasal dari putih telur ayam.

“Masjid Raya Sultan Riau masih asli dan belum pernah dilakukan pemugaran dari tahun 1832 Masehi,” kata Ketua Pengurus Masjid Sultan Riau, Raja H Abdurrahman (62), yang ditemui dikediamannya tidak jauh dari Masjid, Kamis (5/8).

Laki-laki yang sudah ubanan tersebut mengatakan, Masjid yang juga dikenal dengan sebutan Masjid Raya Penyengat mulai dibangun pada 1803, saat Sultan Mahmud Syah membenahi Pulau Penyengat yang merupakan benteng pertahanan pada masa Raja Ali Haji berperang melawan Belanda pada 1782 Masehi.

“Saat Sultan Mahmud membenahi Penyengat untuk pusat bandar (kota), pertama sekali dibangun adalah Masjid Raya Sultan Riau,” ujarnya.

Pulau yang mempunyai luas sekitar 240 hektar atau 3,5 kilometer persegi, terdiri atas daratan 40,8 hektar dan perbukitan seluas 192,2 hektar tersebut terus dibangun Sultan Mahmud Syah dengan membangun istana serta bangunan pendukung lainnya hingga menjadi pusat kota.

“Barulah pulau Penyengat dihadiahkan kepada Engku Putri sebagai hadiah perkawinan dari Sultan Mahmud Syah setelah semua fasilitas pendukung lengkap,” jelas Abdurrahman.

Raja Hamidah atau Engku Putri menetap di Pulau Penyengat semenjak itu dan diberi kekuasaan oleh Sultan Mahmud Syah dengan menyerahkan alat-alat kebesaran Kerajaan Riau-Lingga yang salah satunya berupa Cogan.

Seiring perkembangan pusat perkotaan dan pertumbuhan penduduk Pulau Penyengat, maka direnovasilah Masjid Sultan Riau oleh Yang Dipertuan Muda Riau VII Raja Abdul Rahman pada 1932 Masehi.

“Saat itu pada tanggal 1 Syawal 1249 H (1832 M), Raja Abdul Rahman menyerukan kepada rakyatnya untuk berjihat di jalan Allah (Fisabilillah) dengan membangun Masjid Sultan Riau lebih besar agar bisa menampung jamaah,” kata Abdurrahman.

Seluruh warga Pulau Penyengat waktu itu secara bergotong-royong siang dan malam membangun Masjid dan juga dibantu oleh masyarakat sekitar Pulau Penyengat, bahkan rakyat dari seluruh daerah kekuasaan Raja Abdul Rahman.

“Kaum perempuan bekerja di malam hari dan laki-laki bekerja pada siang hari, pondasi Masjid waktu itu bisa diselesaikan selama tujuh hari tujuh malam,” ujarnya seolah-olah bisa mengenang waktu pembuatan Masjid itu.

Putih telur

Bantuan makanan, berupa lauk-pauk, sayur-sayuran dari berbagai penjuru juga datang untuk pekerja yang membangun masjid, termasuk telur ayam kampung yang mencapai beberapa kapal tongkang.

Saking banyaknya telur ayam, pekerja hanya mengambil kuningnya untuk dimakan dan membuang putihnya.

“Saat itulah arsitek Masjid asal India yang didatangkan dari Singapura, memanfaatkan putih telur sebagai bahan campuran pasir, tanah liat dan kapur,” jelasnya.

Padahal menurut dia tidak ada rencana membangun Masjid dengan putih telur oleh arsitek yang menurut sejarahnya juga pernah mengerjakan salah satu keajaiban dunia Taj Mahal, India.

Saat itu, menurut dia, Yang Dipertuan Muda memerintahkan seluruh rakyat didaerah kekuasaannya untuk mencari telur burung layang-layang di tukong-tukong (goa batu) di Laut Natuna dan Lingga sebagai persiapan jika putih telur ayam kampung tidak mencukupi.

“Telur burung layang-layang tidak jadi digunakan karena telur ayam kampung mencukupi untuk membangun Masjid seluas 20×18 meter yang masih kokoh dan berfungsi hingga saat ini,” katanya.

Ketebalan dinding bangunan masjid cukup tebal diperkirakan mencapai sekitar 40 centimeter.

Menurut Abdurrahman, lama pengerjaan Masjid Sultan Riau tidak tercatat dalam sejarah, yang diketahui hanya lama pengerjaan pondasi setinggi lebih kurang 3 meter selama tujuh hari tujuh malam.

“Saat itu warna bangunan Masjid Sultan Riau berwarna putih, saat ini sudah dicat dengan warna kebesaran Melayu warna kuning dipadukan dengan warna hijau sebagi warna kebesaran umat Islam,” katanya.

Disisi kiri kanan masjid terdapat bangunan tambahan yang disebut dengan Sotoh (tempat pertemuan), sehingga luas keseluruhan komplek Masjid Sultan Riau mencapai 54,5 x 23,5 meter.

Simbol rakaat sholat

Ruangan Masjid Sultan Riau bisa dibagi lima ruangan, yang menurut Abdurrahman sebagai penanda Rukun Islam ada lima, dengan ditopang empat tiang beton didalam ruangan berdiameter sekitar 1 meter yang menggambarkan Gurindam Dua Belas yang dinyatakan Raja Ali Haji, “Barang siapa mengenanal yang empat, maka dia itulah orang yang ma`rifat”.

Empat tiang tersebut juga menandakan Islam mempunyai empat Mazhab, yaitu Hambali, Maliki, Syafii dan Hanafi.

Atap kubah Masjid Sultan Riau juga ada 13 kubah yang diartikan sebagai penanda Rukun Sholat lima waktu ditambah dengan empat menara tempat Bilal mengumandangkan azan yang diperkirakan setinggi 18 meter.

“Jika digabungkan 13 kubah dengan empat menara menandakan jumlah rakaat sholat lima waktu sebanyak 17 rakaat,” kata Abdurrahman.

Corak bagian dalam 13 kubah tersebut juga memiliki corak dan variasi yang berbeda satu sama lainnya, ada yang berbentuk bulat, segi tiga, segi lima, segi empat dengan lonjong keatas, yang menurut sejarahnya diartikan sebagai sholat lima waktu memiliki jumlah rakaat yang berbeda.

Di Masjid Sultan Riau yang sudah berumur lebih kurang 207 tahun tersebut juga masih tersimpan peninggalan sejarah yang memiliki nilai sejarah tinggi, diantanya dua buah kitab Alqur`an tulisan tangan pada tahun 1752 Masehi dan tahun 1867 Masehi.

Alqur`an tulisan tangan pada tahun 1752 ditulis oleh Abdullah Al Bugisi dan pada 1867 ditulis oleh Abdurrahman Istambul, putra Riau yang disekolahkan ke Istambul oleh Raja dan menulis Alqur`an sesampai di Penyengat.

Alqur`an tulisan tangan Abdurrahman Istambul masih bisa dilihat didalam Masjid yang dipajang didalam lemari kaca persis didepan pintu masuk, sedangkan karya Abdullah Al Bugisi tidak bisa dilihat lagi dan disimpan karena sudah rusak dan rapuh.

“Alqur`an tulisan tangan Abdullah Al Bugisi sudah rusak, tulisan ayat-ayat Alqur`an yang ditulisnya seperti terbakar dan tidak bisa dibaca lagi, sedangkan bagian pinggir kertasnya masih utuh,” kata Abdurrahman yang sehari-hari mengurus Gurindam Center.

Selain Alqur`an tulisan tangan, peninggalan sejarah yang ada di masjid tersebut berupa Mimbar untuk Khatib dalam Sholat Juma`t yang didatangkan dari Demak, berupa kayu jati ukiran Jepara dan masih difungsikan sampai sekarang untuk Khatib Sholat Jum`at dan hari raya.

“Lampu kristal hadiah dari Kerajaan Pruisia (Jerman) pada tahun 1860-an masih terpasang di salah satu bagian kubah masjid,” kata Abdurrahman.

Kitab-kitab kuning juga masih banyak tersimpan di Masjid yang hampir setiap harinya ramai dikunjungi wisatawan lokal maupun dari Malaysia dan Singapura, apalagi menjelang puasa dan pada saat lebaran untuk beribadah dan melihat situs peninggalan sejarah lainnya di Pulau Penyengat.

Hari besar Islam

Di Masjid Raya Penyengat juga sudah menjadi tradisi memperingatai hari-hari besar Islam, seperti I Muharram yang ditandai dengan berkeliling kampung selama tiga hari pada malam hari dengan Ratib Saman.

“Tujuannya untuk pembersihan kampung dari hal-hal yang tidak baik, seperti mengazankan tempat-tempat yang dianggap angker,” kata Abdurrahman.

Pada Maulid Nabi Muhammad SAW juga berkeliling kampung sebelum membacakan surat Barzanji di Masjid.

Selain itu juga pembacaan hikayat Isra Mi`raj saat peringatan Isra Mi`raj.

“Beberapa hari sebelum datang bulan Puasa juga dilakukan `Kenduri Jamak` yang diikuti seluruh warga Penyengat dan warga lainnya di Masjid Sultan Riau,” katanya.

Masjid Raya Sultan Riau atau Masjid Raya Penyengat, ditetapkan pemerintah sebagai benda cagar budaya bersama 16 situs sejarah lainnya di Pulau milik Engku Putri itu.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Tanjungpinang, Abdul kadir Ibrahim, mengatakan, pemerintah bersama warga Pulau Penyengat tetap berusaha melestarikan peninggalan sejarah Kerjaan Riau-Lingga du pulau itu.

“Kami juga telah mengusulkan kepada Pemerintah Provinsi Kepri untuk menata lebih baik kawasan dilingkungan Masjid yang satu-satunya di Indonesia memakai bahan baku putih telur, agar tertata dengan lebih baik dan tetap terpelihara keasliannya,” ujarnya yang biasa disapa Akib.

Pelestarian benda-benda cagar budaya di Pulau Penyengat dibawah pengawasan Pemkot Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau, Kementerian Kebudyaan dan Pariwisata, serta Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Batusangkar, Sumatra Barat dan Balai Arkeologi Medan.
(T.HM/P003)

Sumber: Antara

Pemerintah Betulkan Arah Kiblat Masjid

March 15th, 2010 by No comments »

Jakarta (ANTARA News) – Kementerian Agama akan memverifikasi arah kiblat di masjid-masjid seluruh Indonesia untuk menghindari kemungkinan ketidakakuratan arah kiblat seperti diduga selama ini, demikian Sekjen Kementrian Agama Bahrul Hayat pada sosialisasi Arah Kiblat Tingkat Nasional di Jakarta, Senin.

“Secara bertahap, semua masjid di Indonesia akan dilakukan verifikasi arah kiblat. Caranya dengan mengubah shaf, sedangkan yang akan membangun masjid supaya berkoordinasi dengan Kementrian Agama setempat,” jelas Bahrul Hayat.

Menurut Bahrul, pengukuran ulang arah kiblat masjid maupun musola tidak dipungut biaya, karena ditanggung Kementrian Agama.

Kementrian Agama menilai, arah kiblat antarmasjid di Indonesia masih berbeda satu sama lain, sekitar 20 derajat bahkan lebih.

Bahrul melanjutkan, bagi masjid dan musola yang belum diverifikasi arah kiblatnya, jamaah tetap diperkenankan shalat seperti biasa dan tidak perlu galau.

Ketidakakuratan arah kiblat masjid dan mushalla, bukan karena kesalahan masyarakat, namun karena faktor keterbatasan peralatan dan teknologi yang semakin maju.

Jadi, arah kiblat yang ditetapkan oleh para ulama dan tokoh agama selama ini sudah sesuai dengan kondisi ilmu falaq dan peralatan yang ada.

“Sekarang ini kemajuan zaman dan ilmu pengetahuan serta canggihnya peralatan telah memberikan kemudahan bagi manusia untuk menentukan posisi yang tepat mengarah ke arah Kabah,” ujar Bahrul.

Ia menambahkan, pada 27 atau 28 Mei jam 16:18 Wib, dan 15 atau 16 Juli jam 16:28 Wib, posisi matahari tepat berada di atas Ka`bah sehingga bayang-bayang benda di permukaan bumi pada jam tersebut mengarah ke Ka`bah.

“Jika arah tersebut telah kita temukan, berdasarkan hasil ilmu pengetahuan dan teknologi. Maka hasil tersebut merupakan ijtihad yang wajib dipergunakan,” ujarnya.

Ia mengatakan, kompas kiblat yang tersebar di masyarakat, meski memudahkan, kurang tepat sehingga tidak perlu digunakan lagi. (*)

Sumber: Antara

Masjid Sholihin Surakarta

March 12th, 2010 by aidil No comments »

Masjid Sholihin adalah sebuah masjid di kota Surakarta. Masjid ini didirikan pada tahun 1954 dan terletak di pojok jalan Gajah Mada dan jalan Raden Mas Said.

Di dalam masjid ini terdapat sebuah prasasti dalam aksara Hanacaraka dan bahasa Jawa serta prasasti terjemahan dalam bahasa Indonesia mengenai pewakafan tanah untuk masjid ini pada tahun 1954.

Warung Ukhuwah

January 10th, 2010 by No comments »

Dalam rangka mengembangkan potensi usaha berbasis masjid, Dompet Dhuafa Republika (DD) akan mendukung dan memfasilitasi berkembangnya usaha warung berbasis masjid. DD akan membantu sosialisasi dan memberikan dana stimulan bagi pengembangan usaha warung yang dikelola oleh organisasi masjid. DD akan menyeleksi, me-latih dan mendampingi pengembangan usaha warung berbasis masjid. Program ini kami rintis serentak di 13 Propinsi yaitu (Aceh, Medan, Padang, Batam, Palembang, Lampung, Tangerang, Bekasi, Depok, Bogor, Jogjakarta, Bali, Pontianak, Balikpapan dan Banjarmasin). DD akan menyediakan dana awal stimulan usaha antara 5 – 50 juta rupiah per warung.

Kami mengundang masjid-masjid yang memiliki komitmen di daerah-daerah tersebut, khususnya di Bogor, Tangerang, Bekasi dan Depok untuk mengajukan penawaran menjadi mitra pelaksana, dengan persyaratan sebagai berikut :
1. Mengajukan permohonan menjadi mitra yang dilengkapi
profil masjid dan proposal usaha warungnya.
2. Menyediakan Tempat Usaha
3. Menyediakan Tenaga Kerja
4. Menyediakan dana pendamping stimulan, minimal 10 %
dari dana yang dikucurkan.
5. Bersedia mengikuti pelatihan dan pendampingan dari DD
6. Bersedia mengikuti ketentuan sebagai mitra Program

Bagi masjid-masjid yang berminat,
silakan mengajukan permohonan ke :
Direktorat Program Dompet Dhuafa Republika
Perkantoran Ciputat Indah Permai lok C No. 28-29
Jl. Ir. H. Juanda 50 Ciputat Tangerang 15419
Po. Box 1996 Jakarta 12000

Permohonan paling lambat kami terima 10 Mei 2008

Festival Masjid Bersejarah di Batam

November 4th, 2009 by No comments »

Festival Masjid Bersejarah di Batam

Rabu, 4 November 2009 | 03:11 WIB

Batam, Kompas – Kegiatan Festival Masjid Bersejarah direncanakan diadakan di Batam, Kepulauan Riau, pada tanggal 5 November sampai 8 November 2009. Festival itu akan diikuti peserta dari sejumlah provinsi dan peserta dari Malaysia.

Hal itu diungkapkan Kepala Bagian Hubungan Masyarakat Pemerintah Kota Batam Yusfa Hendri di Batam, Selasa (3/11).

”Sampai saat ini sudah ada 21 provinsi yang memastikan ikut dalam festival tersebut,” kata Yusfa. Selain dari Indonesia, peserta dari Malaysia, seperti Malaka dan Johor, juga ikut berpartisipasi.

Menurut Yusfa, Festival Masjid Bersejarah, termasuk keraton, diadakan Dewan Masjid Indonesia. Dalam festival itu akan dipamerkan stan-stan yang menampilkan masjid-masjid bersejarah.

”Khusus Provinsi Kepri, mungkin akan ditampilkan sejarah masjid Pulau Penyengat,” kata Yusfa. Selain itu, juga ada seminar yang terkait dengan perlindungan terhadap warisan budaya.

Festival Masjid Bersejarah itu merupakan festival yang ke-4. Festival sebelumnya diadakan di Jakarta. Pelaksanaan Festival Masjid Bersejarah dinilai dapat mendukung program Visit Batam 2010 yang dicanangkan Pemerintah Kota Batam.

Selain Festival Masjid Bersejarah, pada tanggal 6 November di Batam juga diadakan Kongres Vegetarian Asian Ke-4. Pada kongres itu juga dihadirkan para pakar di bidang lingkungan hidup untuk membahas masalah yang terkait dengan pemanasan global dan upaya melindungi lingkungan hidup.

Di beberapa daerah terdapat masjid bersejarah. Bangunan ini memiliki arti yang penting bagi sejarah penyebaran agama Islam dan juga sejarah Indonesia.

Di banyak tempat ibadah ini masih terawat dengan baik dan memiliki ornamen yang layak dikaji para peneliti sejarah dan arsitek.

Di Provinsi Sumatera Utara terdapat sejumlah masjid bersejarah, seperti Masjid Raya Kota Medan dan Masjid Raya di Kabupaten Langkat. (FER)

Sumber http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/11/04/03110592/festival.masjid.bersejarah..di.batam

Selamat Idul Fitri 1430 H

September 18th, 2009 by aidil No comments »

Segenap crew Masjidkita.org mengucapkan :
Selamat Idul Fitri 1430 H
Mohon Maaf Lahir dan Batin
Semoga kita menjadi fitrah dan lebih baik lagi dalam beribadah dan bekerja setelah Ramadhan ini berlalu…

Masjid Jami’ Sultan Abdurrahman Pontianak

August 12th, 2009 by aidil No comments »

Masjid yang memiliki panjang 33,27 meter dan lebar 27,74 meter ini merupakan masjid tertua dan terbesar di Pontianak. Masjid yang undak (seperti tajug ala arsitektur Jawa) paling atasnya mirip mahkota atau genta besar khas arsitektur Eropa ini menjadi saksi sejarah perubahan demi perubahan yang terjadi di Kota Pontianak dan sekitarnya.

Sultan Syarif Usman (1819-1855 M), sultan ke-3 Kesultanan Pontianak, tercatat sebagai sultan yang pertama kali meletakkan fondasi bangunan masjid sekitar tahun 1821 M/1237 H. Bukti bahwa masjid tersebut dibangun oleh Sultan Syarif Usman dapat dilihat pada inskripsi huruf Arab yang terdapat di atas mimbar masjid yang menerangkan bahwa Masjid Jami‘ Sultan Abdurrahman dibangun oleh Sultan Syarif Usman pada hari Selasa bulan Muharam tahun 1237 Hijriah. Berbagai penyempurnaan bangunan masjid terus dilakukan oleh sultan-sultan berikutnya hingga menjadi bentuknya seperti yang sekarang ini.

Untuk menghormati jasa Sultan Sayyid Syarif Abdurrahman Alkadri, pendiri Kota Pontianak dan sultan pertama Kesultanan Pontianak, masjid yang berada di sebelah barat Istana Kadriah itu pun diberi nama Masjid Jami‘ Sultan Abdurrahman.

Mayoritas konstruksi bangunan masjid terbuat dari kayu belian pilihan. Dominasi kayu belian masih dapat dilihat pada pagar, lantai, dinding, menara, dan sebuah bedug besar yang terdapat di serambi masjid. Enam tonggak utama (soko guru) penyangga ruangan masjid yang berdiameter 60 sentimeter juga terbuat dari kayu belian. Konon, tonggak-tonggak tersebut telah berusia lebih dari 170 tahun. Selain enam tonggak utama, terdapat empat belas tiang pembantu yang berfungsi sebagai penyangga ruangan masjid.

Pengaruh arsitektur Eropa terlihat pada pintu dan jendela masjid yang cukup besar, sedangkan pengaruh Timur Tengah terlihat pada mimbarnya yang berbentuk kubah.

Sumber : Masjid Jami’ Sultan Abdurrahman

Masjid Islamic Center Samarinda

August 12th, 2009 by aidil 3 comments »

Masjid yang diklaim oleh Pemprov Kaltim sebagai masjid termegah dan terbesar di Asia Tenggara. Terletak di kelurahan Karang Asam, Samarinda Ilir, Samarinda Kaltim ini memiliki luas bangunan utama 43.500 meter persegi. Untuk luas bangunan penunjang adalah 7.115 meter persegi dan luas lantai basement 10.235 meter persegi. Sementara lantai dasar masjid seluas 10.270 meter persegi dan lantai utama seluas 8.185 meter persegi. Sedangkan luas lantai mezanin (balkon) adalah 5.290 meter persegi.

Bangunan masjid ini memiliki sebanyak 7 menara dimana menara utama setinggi 99 meter yang bermakna asmaul husna atau nama-nama Allah yang jumlahnya 99. Menara utama itu terdiri atas bangunan 15 lantai masing-masing lantai setinggi rata-rata 6 meter. Sementara itu, anak tangga dari lantai dasar menuju lantai utama masjid jumlahnya sebanyak 33 anak tangga. Jumlah ini sengaja disamakan dengan sepertiga jumlah biji tasbih.

Selain menara utama, bangunan ini juga memiliki 6 menara di bagian sisi masjid. Masing-masing 4 di setiap sudut masjid setinggi 70 meter dan 2 menara di bagian pintu gerbang setinggi 57 meter. Enam menara ini juga bermakna sebagai 6 rukun iman.

Masjid Tanah Grogot

August 10th, 2009 by aidil No comments »

Masjid ini diperkirakan didirikan pada abad 18 M. Masjid yang berdampingan dengan istana Tanah Grogot (sekarang menjadi museum) banyak dipengaruhi oleh kebudayaan Jawa, dimana menempatkan masjid, istana dan alun-alun dalam satu komplek. Selain itu, posisi berdampingan ini juga menunjukkan bahwa masjid ini adalah masjid kerajaan.

Sumber : Masjid Tanah Grogot

Masjid Raya Darussalam Samarinda

March 4th, 2009 by aidil No comments »

masjidraya

Samarinda sebagai Ibu Kota Kalimantan Timur menyimpan riwayat masjid yang cukup tua. Buktinya, pembangunan Masjid Raya Darussalam Samarinda yang berdiri pada 1925 diilhami saudagar-saudagar Suku Bugis dan Suku Banjar. Seiring kemajuan zaman bangunan masjid tertua itu banyak mengalami perubahan tanpa mengurangi ciri khasnya.

Sebelumnya masjid itu bernama Masjid Jamik yang kemudian mengalami renovasi pada 1953 dan 1967. Bahkan, semula masjid ini dibangun di atas tanah 25×25 meter di pinggiran Sungai Mahakam. Namun, dengan kemajuan Kota Samarinda yang semakin pesat menyebabkan lokasi masjid bergeser ke Jalan Yos Sudarso dengan luas sekitar 15 ribu meter persegi. Sedangkan bangunan masjid itu mengacu pada konsep Kerajaan Turki kuno. Ciri itu tampak pada bentuk kubah, menara, serta sejumlah lengkungan di atas pintu dan jendela.

Masjid tersebut dibangun khusus dibuat untuk melambangkan sejarah dan keberadaan Islam. Hal itu ditandai dengan tangga masjid yang dibangun ke arah depan dan kiri berjumlah tiga buah, bangunan menara berjumlah empat buah, satu kubah kecil dikelilingi delapan buah kubah kecil. Masjid itu juga dilengkapi empat buah kubah kecil di setiap sudut.

sumber : liputan6.com

 

website resmi masjid darussalam samarinda