Masjid Jami’ Pangkalpinang

September 9th, 2008 No comments »

masjid_jami_pangkalpinangMasjid ini pertama kali dibangun pada tanggal 3 Syawal 1355 Hijriah, atau pada tanggal 18 Desember 1936 Masehi. Data itu tertulis di atas meja yang terbuat dari batu marmar putih yang terletak di depan masjid. Dan bentuknya pun bukan seperti sekarang ini. Keadaan masjid saat itu masih menggunakan dinding papan, berlantai semen dan beratap genteng. Posisinya dulu terletak sekitar tempat wuduk dan menara masjid saat ini.

Sementara lantai kedua untuk menyimpan kitab-kitab, buku-buku agama, tikar dan alat perlengkapan masjid lainnya dan lantai atas digunakan untuk mengumandangkan azan. Masjid Jamik ini dibangun di atas tanah wakaf dengan sebelah utara terdapat rawa-rawa dan banyak terdapat pohon rumbia.

Sumber: Metro Bangka Belitung dan  persada nusantara

Masjid Said Naum

May 10th, 2008 No comments »

SUATU rancangan masjid yang sangat berhasil dalam upaya menghadirkan kosa bentuk masjid tradisional Jawa ke dalam ungkapan-ungkapan modern adalah Masjid Said Naum yang terletak di dalam area kepadatan tinggi di Kebon Kacang, Jakarta.

Masjid yang dirancang arsitek Adhi Moersid dan tim ini jelas memperlihatkan usaha serius dalam mengakomodasi dua kepentingan berbeda yaitu merepresentasikan karakter arsitektur lokal/tradisional dengan pendekatan modern.Wajar jika rancangan ini kemudian memenangkan kompetisi yang diadakan Pemda DKI pada tahun 1975 di mana kriteria utamanya adalah harus merepresentasikan karakter arsitektur tradisional, cocok dengan lingkungan sekitar, dan menggunakan material lokal. Atas alasan itu pulalah bangunan masjid yang selesai pembangunannya tahun 1977 ini mendapatkan penghargaan Honourable Mention dari Aga Khan Award for Architecture pada tahun 1986.

Masjid Said Naum -Penampilan masjid didominasi oleh atap yang mencoba menggubah kembali atap tumpang atau Meru tradisional ke dalam perwujudan yang baru. (Sumber: masjid2000.org/N. Luthfi).

Menurut catatan tertulis dari sang arsitek, pada waktu menggarap rancangan ini sebenarnya tidak ada pretensi mengupas kemudian merumuskan bagaimana tradisi dan unsur arsitektur tradisional dapat dimasukkan ke dalam rancangan dengan mengikuti aturan atau teori tertentu. Namun, yang dicoba dilakukan adalah mencarikan landasan untuk memberikan makna pada ungkapan arsitekturnya baik yang teraga maupun yang tidak teraga.

Salah satu landasan perancangannya adalah keyakinan bahwa Islam merupakan ajaran atau ideologi yang ke mana pun ia datang tidak secara langsung membawa atau memberikan bentuk budaya berupa fisik. Di mana pun Islam datang, ia siap memakai berbagai bentuk lokal/tradisional untuk dijadikan identitas fisiknya. Dari sini kita menemukan banyak bangunan-bangunan tradisional yang dengan mudah dapat berubah fungsinya menjadi masjid di berbagai masyarakat yang telah memeluk agama Islam.

Sumber : Ungkapan Lokalitas dalam Masjid Modern

Masjid Menara Kudus

May 10th, 2008 No comments »

MASJID yang menurut sejarah didirikan pada tahun 956 Hijriah atau 1549 Masehi ini memiliki nama asli Masjid Al-Aqsa. Konon, Ja’far Sodiq atau yang kemudian dikenal sebagai Sunan Kudus pernah membawa kenangan berupa sebuah batu dari Baitul Maqdis di Palestina untuk batu pertama pendirian masjid yang diberi nama masjid Al-Aqsa. Masjid tersebut kemudian lebih populer dengan sebutan masjid Menara Kudus, merujuk pada menara candi di sisi timur bangunan utama.

Yang paling monumental dari bangunan masjid ini adalah menara berbentuk candi bercorak Hindu Majapahit, bukan pada ukurannya yang besar saja, tetapi juga keunikan bentuknya yang tak mudah terlupakan. Bentuk ini tidak akan kita temui kemiripannya dengan berbagai menara masjid di seluruh dunia.

Keberadaannya yang tanpa-padanan karena bentuk arsitekturalnya yang sangat khas untuk sebuah menara masjid itulah yang menjadikannya begitu mempesona. Dengan demikian bisa disebut menara masjid ini mendekati kualitas genius locy.


Bercorak Candi – Menara Masjid Kudus merupakan bangunan menara masjid paling unik di Kota Kudus karena bercorak Candi Hindu Majapahit. (Fotografer: Indra Yudha).

Bangunan menara berketinggian 18 meter dan berukuran sekitar 100 m persegi pada bagian dasar ini secara kuat memperlihatkan sistem, bentuk, dan elemen bangunan Jawa-Hindu. Hal ini bisa dilihat dari kaki dan badan menara yang dibangun dan diukir dengan tradisi Jawa-Hindu, termasuk motifnya. Ciri lainnya bisa dilihat pada penggunaan material batu bata yang dipasang tanpa perekat semen, namun konon dengan dengan digosok-gosok hingga lengket serta secara khusus adanya selasar yang biasa disebut pradaksinapatta pada kaki menara yang sering ditemukan pada bangunan candi.

Teknik konstruksi tradisional Jawa juga dapat dilihat pada bagian kepala menara yang berbentuk suatu bangunan berkonstruksi kayu jati dengan empat soko guru yang menopang dua tumpuk atap tajuk. Sedangkan di bagian puncak atap tajuk terdapat semacam mustoko (kepala) seperti pada puncak atap tumpang bangunan utama masjid-masjid tradisional di Jawa yang jelas merujuk pada elemen arsitektur Jawa-Hindu.

Sumber : Masjid Menara Kudus

Masjid Al-Muqarrabin Labala

May 2nd, 2008 No comments »

Berdasarkan sejarah lokal, masjid ini dibangun pada tahun 1923 atas prakarsa Raja Labala dari Dinasti Mayeli, anak Raja Baha. Terkait dengan nama Labala, adalah sebuah nama desa diselatan pulau Lembata, Flores Timur. Transpormasi utama desa ini adalah angkutan laut, sedangkan jalur perhubungan darat belum memadai disebabkan oleh keadaan geografis yang berbukit-bukit.

Pada awalnya, masjid ini hanya menampung sekitar 200 jamaah saja. Kemudian di tahun 1995 dilakukan renovasi sehingga bisa menampung 400 jamaah. Arsitek masjid ini adalah Haji Olong Koli yang berasal dari desa Kampung Garang Lamahala, Flores Timur.

Sumber : Masjid Al-Muqarrabin

Masjid Al-Anwar, Lampung

April 29th, 2008 1 comment »

Masjid yang berada di jalan Malahayati, Teluk Betung Selatan, Bandar Lampung ini berada di pusat perekonomian propinsi Lampung. Arsitekturnya khas yang di dukung oleh 6 menara dengan tinggi 8 meter yang menggambarkan enam prinsip dasar perjuangan islam. Menurut sejarah setempat, menara-menara tersebut dibangun tanpa menggunakan semen, tetapi dengan putih telur dan campuran kapur sebagai penggantinya. Sampai sekarang, arsitek pembuatan mesjid ini tidak diketahui asal usulnya. 

Masjid ini sudah beberapa kali mengalami renovasi. Setelah kemerdekaan Indonesia, dilakukan renovasi di tahun 1962 dan 1997. Di tahun 1997, renovasi yang dilakukan menelan biaya Rp. 400 Juta

Sumber : Al-Anwar Mosque, Lampung

Masjid Jamik Pangkal Pinang

April 29th, 2008 No comments »

Masjid Jamik pertama kali dibangun pada tanggal 3 Syawal 1355 Hijriah, atau pada tanggal 18 Desember 1936 Masehi. Data itu tertulis di atas meja yang terbuat dari batu marmar putih yang terletak di depan masjid. Dan bentuknya pun bukan seperti sekarang ini. Keadaan masjid saat itu masih menggunakan dinding papan, berlantai semen dan beratap genteng. Posisinya dulu terletak sekitar tempat wuduk dan menara masjid saat ini.

Dilihat dari atas seperti piramida dengan bentuk bangunan bertingkat tiga. Lantai pertama digunakan untuk tempat ibadah: pengajian dan salat berjamaah dengan kapasitas sekitar 600 jemaah. Sementara lantai kedua untuk menyimpan kitab-kitab, buku-buku agama, tikar dan alat perlengkapan masjid lainnya dan lantai atas digunakan untuk mengumandangkan azan. Masjid Jamik ini dibangun di atas tanah wakaf dengan sebelah utara terdapat rawa-rawa dan banyak terdapat pohon rumbia.

Sumber: Metro Bangka Belitung

Masjid Mujahidin Pontianak Gelar “Sajadah Panjang”

April 29th, 2008 No comments »

Pontianak (ANTARA News) – Untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW, Yayasan Mujahidin Pontianak akan menggelar acara kegiatan Sajadah Panjang bersama Jama`ah Sajadah Fajar sebuah forum umat yang menyadari pentingnya shalat berjamaah, di Masjid Raya Mujahidin Pontianak, Kamis.

Wakil Sekretaris Yayasan Mujahidin, M Joni Abu, di Pontianak, Rabu, mengatakan bahwa Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW kali ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya yang hanya menampilkan acara Tabligh pada siang hari. Acara kali ini dilakukan serangkaian dengan shalat Subuh.

Pada kesempatan yang sama, ketua Panitia Peringatan Maulid Nabi Masjid Mujahidin, Mujid Taba mengatakan acara tersebut dimulai dengan shalat Subuh berjamaah disertai ceramah oleh Pengasuh Majlis Hati Yayasan Darul Izzah Depok, Ustadz. H Ibnu Jarir, Lc, di masjid terbesar di Kalimantan Barat tersebut.

Ketika ditanya mengenai alasan pelaksanaannya dilakukan pada waktu Subuh, Mujid mengatakan bahwa waktu Subuh adalah waktu yang sulit untuk orang bangun shalat. Kalau Subuh bisa shalat di masjid tentu shalat lain pun akan mudah.

“Tujuan acara Sajadah Panjang ini adalah mengajak umat Islam memakmurkan masjid, sebagaimana yang diperintahkan oleh Nabi Muhammad,” katanya.

Shalat merupakan ibadah yang tidak pernah ditinggal Nabi yang harus kita contoh. Maka tema tentang shalat berjamaah dan memakmurkan masjid tentu tetap sesuai dengan acara peringatan Maulid Nabi Muhammad, 12 Rabiul Awal 1429 Hijriyah.

Acara tersebut dimulai pukul 04.30 WIB, dan dihadiri berbagai kalangan. Dari kalangan pelajar telah diundang beberapa perguruan baik Mujahidin, Muhammmadiyah, Al-Azhar, dan beberapa sekolah lainnya. Juga akan diikuti dari berbagai jama`ah masjid yang ada di Kota pontianak.

Mujid memperkirakan Masjid Raya Mujahidin akan penuh oleh jama`ah. Acara Sajadah Panjang didukung oleh Dewan Masjid Indonesia (DMI) Kota Pontianak, Majlis Hati dan Radio Mujahidin FM.

Sekaligus dalam kesempatan tersebut, mengenalkan Sajadah Fajar yang merupakan forum bagi umat Islam untuk mendakwahkan pentingnya sholat berjamaah.

Sajadah fajar merupakan sejenis paguyuban ataupun forum umat Islam yang menyadari pentingnya shalat berjamaah. Forum yang dibentuk pada 18 November 2007, saat ini anggotanya mencapai 400 anggota.

“Padahal mulanya hanya belasan orang dan sangat berat sekali mengajak kaum muslimin untuk melaksanakan shalat berjamaah di masjid,” kata Mujid.

Program yang mulai berjalan sekarang adalah shalat Subuh keliling yang diadakan di masjid-masjid yang ada di Kota Pontianak. Target selanjutnya Sajadah Fajar ini sampai ke kampung-kampung dan harapannya semua kaum muslimin sadar dan mau untuk melaksanakan shalat di masjid.(*)

Sumber: Antara

Masjid Al Karomah Martapura

April 29th, 2008 No comments »

SEBAGAI pusat Kerajaan Banjar, Martapura tercatat menjadi saksi 12 sultan yang memerintah. Pada waktu itu Mesjid berfungsi sebagai tempat peribadatan, dakwah Islamiyah, integrasi umat Islam dan markas atau benteng pertahanan para pejuang dalam menantang Belanda.

Akibat pembakaran Kampung Pasayangan dan Masjid Martapura, muncul keinginan membangun Masjid yang lebih besar. Tahun 1280 Hijtiyah atau 1863 Masehi, pembangunan Masjid pun dimulai.

Menurut riwayatnya, Datuk Landak dipercaya untuk mencari kayu Ulin sebagai sokoguru masjid, ke daerah Barito Kalimantan Tengah. Setelah tiang ulin berada di lokasi bangunan Masjid lalu disepakati.

Dilihat dari segi arsitekturnya, bentuk Masjid Agung Al Karomah Martapura mengikuti Masjid Demak Buatan Sunan Kalijaga. Miniaturnya dibawa utusan Desa Dalam Pagar dan ukurannya sangat rapi serta mudah disesuaikan dengan bangunan sebenarnya sebab telah memakai skala.

Sampai saat ini bentuk bangunan Masjid menurut KH Halilul Rahman, Sekretaris Umum di kepengurusan Masjid sudah tiga kali rehab. Dengan mengikuti bentuk bangunan modern dan Eropa, sekarang Masjid Agung Al Karomah Martapura terlihat lebih megah.

Meski bergaya modern, empat tiang Ulin yang menjadi Saka Guru peninggalan bangunan pertama Masjid masih tegak di tengah. Tiang ini dikelilingi puluhan tiang beton yang menyebar di dalam Masjid.

Arsitektur Masjid Agung Al Karomah Martapura yang menelan biaya Rp27 miliar pada rehab terakhir sekitar tahun 2004, banyak mengadopsi bentuk Timur Tengah. Seperti atap kubah bawang dan ornamen gaya Belanda.

Semula atap Masjid berbentuk kerucut dengan konstruksi beratap tumpang, bergaya Masjid tradisional Banjar. Setelah beberapa kali rehab akhirnya berubah menjadi bentuk kubah.

Bila arsitektur bangunan banyak berubah, namun mimbar tempat khatib berkhutbah yang berumur lebih satu abad sampai sekarang berfungsi.

Mimbar berukiran untaian kembang dan berbentuk panggung dilengkapi tangga sampai sekarang masih berfungsi dan diarsiteki HM Musyafa.

Pola ruang pada Masjid Agung Al Karomah juga mengadopsi pola ruang dari arsitektur Masjid Agung Demak yang dibawa bersamaan dengan masuknya agama Islam ke daerah ini oleh Khatib Dayan. Karena mengalami perluasan arsitektur Masjid Agung Demak hanya tersisa dari empat tiang ulin atau disebut juga tiang guru empat dari bangunan lama.

Tiang guru adalah tiang-tiang yang melingkupi ruang cella atau ruang keramat. Ruang cella yang dilingkupi tiang-tiang guru terdapat di depan ruang mihrab, yang berarti secara kosmologi cella lebih penting dari mihrab.

Sejarahnya tiang guru empat menggunakan tali alias seradang yang ditarik beramai-ramai oleh Datuk Landak bersama masyarakat. Atas kodrat dan iradat Tuhan YME tiang Guru Empat didirikan. Masjid pertama kali dibangun berukuran 37,5 meter x 37,5 meter

Photo: Jalan-jalan Terus
Sumber: Masjid Al Karomah Martapura

Masjid Agung Surabaya

April 29th, 2008 No comments »

Masjid, selain sebagai tempat ibadah, tentu saja memiliki peran yang signifikan dalam berbagai kajian kehidupan multi dimensi. Apalagi jika kemudian masjid memiliki akses ke Internet sebagai sumber informasi tanpa batas. Untuk itulah maka Masjid Agung Surabaya Al Akbar melengkapi dirinya dengan Wi-Fi (hotspot) Internet berkecepatan tinggi.’

Layanan hotspot Internet tersebut, yang difasilitasi oleh Telkom Speedy, dapat dinikmati oleh masyarakat dan jamaah dalam radius hingga 100 meter dari Masjid Al Akbar tersebut. “Kehadiran internet di area Masjid Agung Al Akbar ini akan mengoptimalkan akses informasi sebagai sarana yang terbaik untuk membangun masyarakat di bidang pendidikan, pengetahuan dan terutama wawasan keagamaan,” ujar Djadi Soegiarto, Manager Komunikasi Divre V melalui keterangan tertulis yang diterima detikINET, Selasa (11/9/2007).

Dukungan Telkom dalam membangun infrastruktur hotspot Internet di masjid yang berdaya tampung 30 ribu jamaah tersebut, antara lain dengan penyediaan modem wireless access point, penyediaan akses Internet Speedy cuma-cuma hingga akhir tahun 2007 dan penyediaan line akses Internet di sejumlah lokasi seputaran Masjid.

“Dengan dipasangnya hotspot Internet di Masjid Agung Surabaya tersebut, maka ini adalah masjid pertama di Indonesia yang dilengkapi Wi-Fi Speedy Hot Spot,” ujar Djadi. Penandatanganan kerjasama antara Telkom dengan pengelola Masjid Agung Surabaya Al Akbar tersebut diwakili oleh Executive GM Telkom Divre V Mas’ud Khamid dan Direktur Utama Masjid Agung Surabaya Endro Siswantoro.

Tentu saja fasilitas hotspot Internet yang disediakan oleh Masjid Agung Surabaya ini dapat menjadi contoh bagi masjid lain di Indonesia. Apalagi selama bulan puasa, jamaah bisa menggali ilmu dunia akhirat tanpa batas sambil menunggu saat berbuka puasa.

Sumber: Detikcom

Masjid Istiqlal Jakarta

April 29th, 2008 No comments »

Masjid Istiqlal Jakarta

Sebagai negara dengan komunitas muslim terbesar di dunia, Indonesia memainkan peran strategis dalam kancah pergaulan dunia. Usulan, saran dan kritik dari Indonesia tentang berbagai permasalahan Islam diberbagai belahan dunia, selalu dinantikan dan mendapat respon positif.

Sejalan itu, masyarakat Islam di dalam negeri yang terdiri dari berbagai kelompok juga memiliki keanekaragaman yang unik, sekaligus pemahaman yang berbeda. Tak jarang antara kelompok tersebut sering berkonflik, meski tidak dalam bentuk fisik dan skala luas. Sementara dalam skala global (penjuru dunia), berkembang isu-isu yang kurang menyenangkan tentang Islam. Di beberapa tempat, Islam bahkan dianggap sebagai agama yang memperbolehkan tindak kekerasan dan lekat dengan cap terorisme.

Sementara, tidak sedikit orang yang memahami dan mendalami Islam belum cukup mampu menjelaskan tentang keagungan dan kebesaran agama yang rahmatan lil alamiiin ini. Disisi lain, pengaruh media begitu gencar menggambarkan Islam secara “hitam-putih”, sehingga tidak sedikit orang Islam sendiri merasa asing dengan agamanya.

Kondisi ini secara tidak langsung sedang dan telah terjadi di Indonesia, untuk itu dibutuhkan media informasi yang bisa menyelaraskan isu dan menyebarkan informasi Islam secara benar. Tak hanya itu, media tersebut sekaligus bisa menjadi forum komunikasi antara kelompok Islam yang ada di Indonesia, dan tak menutup kemungkinan Islam di seluruh dunia.

Sejalan dengan itu, Istiqlal sebagai mesjid terbesar di Indonesia dan menjadi symbol dari representasi muslim tanah air memainkan peranan strategis dalam menyatukan visi dan misi dari nuansa Islam di Indonesia. Dari sinilah Yayasan Dunia Merdeka (YDM)yang ditunjuk langsung oleh Menteri Agama RI melalui SK untuk mengelola Masjid Istiqlal dengan mendirikan “World Moslem E-Center & World Moslem Communities Gallery” yang salah satu pogramnya pengembangkan portal www.masjidistiqlal.com menjadi media komunikasi yang interaktif antara komunitas/pergerakan muslim di Indonesia dengan berbagai komunitas muslim di seluruh dunia, termasuk didalamnya negara-negara non-OKI, seperti Amerika, Eropa, Australia dan Afrika.