Archive for the ‘Kalimantan Timur’ category

Masjid Islamic Center Samarinda

August 12th, 2009

Masjid yang diklaim oleh Pemprov Kaltim sebagai masjid termegah dan terbesar di Asia Tenggara. Terletak di kelurahan Karang Asam, Samarinda Ilir, Samarinda Kaltim ini memiliki luas bangunan utama 43.500 meter persegi. Untuk luas bangunan penunjang adalah 7.115 meter persegi dan luas lantai basement 10.235 meter persegi. Sementara lantai dasar masjid seluas 10.270 meter persegi dan lantai utama seluas 8.185 meter persegi. Sedangkan luas lantai mezanin (balkon) adalah 5.290 meter persegi.

Bangunan masjid ini memiliki sebanyak 7 menara dimana menara utama setinggi 99 meter yang bermakna asmaul husna atau nama-nama Allah yang jumlahnya 99. Menara utama itu terdiri atas bangunan 15 lantai masing-masing lantai setinggi rata-rata 6 meter. Sementara itu, anak tangga dari lantai dasar menuju lantai utama masjid jumlahnya sebanyak 33 anak tangga. Jumlah ini sengaja disamakan dengan sepertiga jumlah biji tasbih.

Selain menara utama, bangunan ini juga memiliki 6 menara di bagian sisi masjid. Masing-masing 4 di setiap sudut masjid setinggi 70 meter dan 2 menara di bagian pintu gerbang setinggi 57 meter. Enam menara ini juga bermakna sebagai 6 rukun iman.

Masjid Tanah Grogot

August 10th, 2009

Masjid ini diperkirakan didirikan pada abad 18 M. Masjid yang berdampingan dengan istana Tanah Grogot (sekarang menjadi museum) banyak dipengaruhi oleh kebudayaan Jawa, dimana menempatkan masjid, istana dan alun-alun dalam satu komplek. Selain itu, posisi berdampingan ini juga menunjukkan bahwa masjid ini adalah masjid kerajaan.

Sumber : Masjid Tanah Grogot

Masjid Raya Darussalam Samarinda

March 4th, 2009

masjidraya

Samarinda sebagai Ibu Kota Kalimantan Timur menyimpan riwayat masjid yang cukup tua. Buktinya, pembangunan Masjid Raya Darussalam Samarinda yang berdiri pada 1925 diilhami saudagar-saudagar Suku Bugis dan Suku Banjar. Seiring kemajuan zaman bangunan masjid tertua itu banyak mengalami perubahan tanpa mengurangi ciri khasnya.

Sebelumnya masjid itu bernama Masjid Jamik yang kemudian mengalami renovasi pada 1953 dan 1967. Bahkan, semula masjid ini dibangun di atas tanah 25×25 meter di pinggiran Sungai Mahakam. Namun, dengan kemajuan Kota Samarinda yang semakin pesat menyebabkan lokasi masjid bergeser ke Jalan Yos Sudarso dengan luas sekitar 15 ribu meter persegi. Sedangkan bangunan masjid itu mengacu pada konsep Kerajaan Turki kuno. Ciri itu tampak pada bentuk kubah, menara, serta sejumlah lengkungan di atas pintu dan jendela.

Masjid tersebut dibangun khusus dibuat untuk melambangkan sejarah dan keberadaan Islam. Hal itu ditandai dengan tangga masjid yang dibangun ke arah depan dan kiri berjumlah tiga buah, bangunan menara berjumlah empat buah, satu kubah kecil dikelilingi delapan buah kubah kecil. Masjid itu juga dilengkapi empat buah kubah kecil di setiap sudut.(ORS/Polmart Aritonang)

sumber : liputan6.com

Pesona Masjid Shirathal Mustaqiem

April 17th, 2008

Sejarah masjid Shirathal Mustaqiem, nyaris setua usia Samarinda.Setelah masuknya Islam lewat syiar Islam yang dikenalkan pedagang dari Sulawesi Selatan (Sulsel), tak lama setelah itu, sebuah masjid didirikan di pusat berdirinya Samarinda, yang dikenal pula sebagai kampung dagang di dekat Pelabuhan atau Jembatan Aji hilir Sungai Mahakam, Samarinda Seberang.

Masjid yang didirikan Sayyid Abdurrahman Bin Muhammad Assegaf atau dikenal sebagai Pangeran Bendahara, Kapitan Jaya, Petta Loloncong dan Usulonna ini hingga saat ini menjadi pusat kegiatan-kegiatan masyarakat Samarinda Seberang. Kendati dua masjid besar telah didirikan di sekitar kecamatan tersebut namun daya tarik masjid tua ini tetap penuh pesona. Khususnya pada Ramadan maupun Idul Fitri.

Selain kegiatan peribadatan, masjid yang pernah meraih juara dua festival masjid bersejarah ini memiliki fungsi pendidikan melalui sarana belajar membaca dan mengaji Al-Quran. Pada tahun 1952 didirikan sekolah madrasah dan tahun 1972 didirikan pula SMP Hasanuddin. Tahun 1956 ayah Walikota Samarinda Achmad Amins, H Saharuddin Mappe pernah menjadi guru Agama di Madrasah Dinil Islamiyah (MDI) ini. MDI ini mengajarkan berbagai mata pelajaran yakni ilmu tauhid, fiqhi, bahasa Arab dan ilmu-ilmu yang bernuansa Islam.

Sumber : pesona masjid shirathal mustaqiem