<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>masjidkita.org &#187; Jawa Tengah</title>
	<atom:link href="http://www.masjidkita.org/category/jawa-tengah/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.masjidkita.org</link>
	<description>direktori masjid di indonesia</description>
	<lastBuildDate>Sat, 08 Oct 2011 04:13:03 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>Masjid Saka Tunggal</title>
		<link>http://www.masjidkita.org/masjid-saka-tunggal/</link>
		<comments>http://www.masjidkita.org/masjid-saka-tunggal/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 23 Sep 2011 11:35:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aidil</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jawa Tengah]]></category>
		<category><![CDATA[banyumas; masjid saka tunggal; jawa tengah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.masjidkita.org/?p=158</guid>
		<description><![CDATA[Nama resmi masjid ini adalah Masjid Saka Tunggal Baitussalam, tapi lebih populer dengan nama masjid saka tunggal karena memang masjid ini hanya mempunyai saka tunggal (tiang penyangga tunggal). Saka tunggal yang berada di tengah bangunan utama masjid, saka dengan empat sayap ditengahnya yang akan nampak seperti sebuah totem, bagian bawah dari saka itu dilindungi dengan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft" title="Tampak depan masjid" src="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/id/4/45/Masjidsakatunggal.JPG" alt="" width="863" height="667" /></p>
<p>Nama resmi masjid ini adalah Masjid Saka Tunggal Baitussalam, tapi lebih populer dengan nama masjid saka tunggal karena memang masjid ini hanya mempunyai saka tunggal (tiang penyangga tunggal). Saka tunggal yang berada di tengah bangunan utama masjid, saka dengan empat sayap ditengahnya yang akan nampak seperti sebuah totem, bagian bawah dari saka itu dilindungi dengan kaca guna melindungi bagian yang terdapat tulisan tahun pendirian masjid tersebut.</p>
<p>Masjid saka tunggal berukuran 12 x 18 meter ini menjadi satu satunya masjid di pulau Jawa yang dibangun jauh sebelum era Wali Sembilan (Wali Songo) yang hidup sekitar abad 15-16M. Sedangkan masjid ini didirikan tahun 1288M, 2 abad sebelum Wali Songo. Sekaligus menjadikan Masjid Saka Tunggal Baitussalam sebagai Masjid Tertua di Indonesia.</p>
<p><strong>Lokasi</strong></p>
<p>Masjid Masjid Saka Tunggal Baitussalam berada di Desa Cikakak, Kecamatan Wangon Banyumas. Ditengah suasana pedesaan Jawa yang begitu kental. Di kawasan masjid yang dipenuhi dengan kera-kera yang berkeliaran bebas. Bangunan masjid juga sangat unik, beratapkan ijuk serta sebagian dindingnya dari anyaman bambu.</p>
<p><strong>Sejarah Masjid Saka Tunggal</strong></p>
<p>Masjid ini dibangun pada tahun 1288 Masehi sebagaimana tertulis di prasasti yang terpahat di saka masjid itu lebih tua dari kerajaan majapahit yang berdiri tahun 1294 Masehi, masjid ini berdiri ketika masa kerajaan singasari  dan merupakan masjid tertua di indonesia.</p>
<p>Sejarah Masjid Saka tunggal senantiasa terkait dengan Tokoh penyebar Islam di Cikakak, bernama Mbah Mustolih yang hidup dalam Kesultanan Mataram Kuno. Itu sebabnya, tidak heran bila unsur Kejawen masih cukup melekat. Dalam syiar Islam yang dilakukan, Mbah Mustolih memang menjadikan Cikakak sebagai &#8220;markas&#8221; dengan ditandai pembangunan masjid dengan tiang tunggal tersebut. Beliau dimakamkan tak jauh dari masjid Saka Tunggal.</p>
<p><strong>Tradisi Unik Masjid Saka Tunggal, Banyumas</strong></p>
<p><strong><em>Zikir seperti melantunkan kidung jawa</em></strong><br />
Keunikan masjid saka tunggal Banyumas, benar benar terasa di hari Jum’at. Selama menunggu waktu sholat jum’at dan setelah sholat jum’at, Jamaah masjid Saka Tunggal berzikir dan bershalawat dengan nada seperti melantunkan kidung jawa. Dengan bahasa campuran Arab dan Jawa, tradisi ini disebut tradisi ura ura.</p>
<p><strong><em>Pakaian Imam dan muazin</em></strong><br />
Imam masjid tidak menggunakan penutup kepala yang lazimnya digunakan di Indonesia yang biasanya menggunakan peci, kopiyah, tapi menggunakan udeng/pengikat kepala. khutbah jumat disampaikan seperti melantunkan sebuah kidung,</p>
<p><strong><em>Empat muazin sekaligus</em></strong><br />
Empat orang muazim berpakaian sama dengan imam, menggunakan baju lengan panjang warna putih, menggunakan udeng bermotif batik, dan ke empat muazin tersebut mengumandangkan adzan secara bersamaan.</p>
<p><strong><em>Semuanya dilakukan berjama’ah</em></strong><br />
Uniknya lagi, seluruh rangkaian sholat jumat dilakukan secara berjamaah, mulai dari shalat tahiyatul masjid, kobliah juma’at, shalat Jumat, ba’diah jum’at, shalat zuhur, hingga ba’diah zuhur. Semuanya dilakukan secara berjamaah.</p>
<p><strong><em>Tanpa Pengeras Suara</em></strong><br />
Masjid Saka Tunggal Baitussalam hingga saat ini masih mempertahankan tradisi untuk tidak menggunakan pengeras suara. Meski demikian suara azan yang dilantunkan oleh empat muazin sekaligus, tetap terdengar begitu lantang dan merdu dari masjid ini.</p>
<p><strong>Ritual Ganti Jaro, Masjid Saka Tunggal</strong></p>
<p>Adalah ritual mengganti pagar bambu keliling masjid saka tunggal. Ritual ini diikuti oleh seluruh warga desa Cikakak. Dalam ritual yang mereka sebut ganti Jaro Rajapine. Saat membuat pagar ada beberapa pantangan yang harus ditaati. Mereka dilarang berbicara dengan suara keras serta tidak boleh menggunakan alas kaki. Sehingga yang terdengar hanya pagar bambu yang dipukul. Karena melibatkan ratusan warga, hanya dalam waktu 2 jam pagar sepanjang 300 meter ini selesai.</p>
<p>Selain bermakna kebersamaan dan gotong royong, tradisi ganti Jaro Rajab ini bagi warga di sini dipercaya bisa menghilangkan sifat jahat dari diri manusia. Pagar bambu ini selain mengelilingi Masjid Saka Tunggal juga makam Nyai Toleh. Seorang penyebar agama di Banyumas. Sejumlah utusan dari kraton Surakarta dan Ngayogjogkarta Hadiningrat ikut ambil bagian dalam acara ini dengan memanjatkan doa di makam, sebagai rasa syukur.</p>
<p>Ritual ganti Jaro Rajab ini kemudian diakhiri dengan prosesi arak arakan 5 gulungan yang berisi nasi tumpeng ini kemudian diperebutkan warga karena dipercaya bisa memberikan berkah.</p>
<p><strong>Arsitektur Masjid Saka Tunggal, Banyumas</strong></p>
<p>Salah satu keunikan Saka Tunggal adalah empat helai sayap dari kayu di tengah saka. Empat sayap yang menempel di saka tersebut melambangkan ”papat kiblat lima pancer”, atau empat mata angin dan satu pusat. Papat kiblat lima pancer berarti manusia sebagai pancer dikelilingi empat mata angin yang melambangkan api, angin, air, dan bumi. Saka tunggal itu perlambang bahwa orang hidup ini seperti alif, harus lurus. Jangan bengkok, jangan nakal, jangan berbohong. Kalau bengkok, maka bukan lagi manusia.</p>
<p>Empat mata angin itu berarti bahwa hidup manusia harus seimbang. Jangan terlalu banyak air bila tak ingin tenggelam, jangan banyak angin bila tak mau masuk angin, jangan terlalu bermain api bila tak mau terbakar, dan jangan terlalu memuja bumi bila tak ingin jatuh. ”Hidup itu harus seimbang,”</p>
<p>Papat kiblat lima pancer ini sama dengan empat nafsu yang ada dalam manusia. Empat nafsu yang dalam terminologi Islam-Jawa sering dirinci dengan istilah aluamah, mutmainah, sopiah, dan amarah. Empat nafsu yang selalu bertarung dan memengaruhi watak manusia.</p>
<p>Keaslian yang masih terpelihara adalah ornamen di ruang utama, khususnya di mimbar khotbah dan imaman. Ada dua ukiran di kayu yang bergambar nyala sinar matahari yang mirip lempeng mandala. Gambar seperti ini banyak ditemukan pada bangunan-bangunan kuno era Singasari dan Majapahit.</p>
<p>Kekhasan yang lain adalah atap dari ijuk kelapa berwarna hitam. Atap seperti ini mengingatkan atap bangunan pura zaman Majapahit atau tempat ibadah umat Hindu di Bali. Tempat wudu pun juga masih bernuansa zaman awal didirikan meskipun dindingnya sudah diganti dengan tembok.</p>
<p><strong>Renovasi dan Benda Benda Peninggala</strong>n</p>
<p>Sejak tahun 1965 masjid ini sudah dua kali dipugar. Selain dinding tembok, juga diberi dinding anyaman bambu serta lapisan atap seng, Meski sebagian dinding telah direhab dengan tembok, tetapi arsitektur masjid tetap tidak diubah. Sehingga tidak ada perbedaan bentuk yang berarti dari awal berdiri hingga sekarang. Sedangkan tiang dari kayu jati yang menopang bangunan utama masjid dengan ukuran masih terlihat begitu kokoh. Selama ratusan tahun berdiri, warga dan jamaah di Cikakak sama sekali tidak mengganti bangunan utama yang ada di tempat itu, kecuali hanya membangun tembok sekeliling masjid sebagai penopang. Barang lainnya yang sampai sekarang masih tetap rapi dan dipelihara di antaranya adalah bedug, kentongan, mimbar masjid, tongkat khatib dan tempat wudlu.</p>
<p><strong>Status</strong><br />
Sebagaimana tertulis dalam papan peringatan di sekitar masjid, tertulis bahwa, Masjid Saka Tunggal Baitussalam, Desa Cikakak, Kabupaten Banyumas merupakan Benda Cagar Budaya/Situs dengan nomor 11-02/Bas/51/TB/04 dan dilindungi undang undang RI No. 5 tahun 1992 dan PP nomor 10 tahun 1993.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><a href="http://ibastian.blogspot.com/2011/08/masjid-saka-tunggal-masjid-tertua-di.html">sumber</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.masjidkita.org/masjid-saka-tunggal/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menyusuri Jejak Keraton di Masjid Kauman Sragen</title>
		<link>http://www.masjidkita.org/menyusuri-jejak-keraton-di-masjid-kauman-sragen/</link>
		<comments>http://www.masjidkita.org/menyusuri-jejak-keraton-di-masjid-kauman-sragen/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Aug 2010 06:24:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator></dc:creator>
				<category><![CDATA[Jawa Tengah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.masjidkita.org/?p=112</guid>
		<description><![CDATA[Sragen (ANTARA News) &#8211; Tak banyak berbeda dibandingkan suasana masjid lain saat Ramadhan, setiap siang di bulan Ramadhan banyak umat Islam yang merebahkan tubuhnya di pelataran Masjid Kauman, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah, berlindung dari panasnya hawa di kabupaten tersebut. Tak hanya warga di sekitar masjid yang berada di sebelah selatan kawasan Pendopo Kabupaten Sragen tersebut, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sragen (ANTARA News) &#8211; Tak banyak berbeda dibandingkan suasana masjid lain saat Ramadhan, setiap siang di bulan Ramadhan banyak umat Islam yang merebahkan tubuhnya di pelataran Masjid Kauman, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah, berlindung dari panasnya hawa di kabupaten tersebut.</p>
<p>Tak hanya warga di sekitar masjid yang berada di sebelah selatan kawasan Pendopo Kabupaten Sragen tersebut, tak sedikit umat Islam yang berasal dari luar Sragen beribadah sembari beristirahat.</p>
<p>Namun, banyak dari masyarakat yang beribadah dan yang juga sambil beristirahat di Masjid Kauman Sragen kurang mengetahui bahwa sejarah pendirian tempat itu berkaitan dengan Keraton Kasunanan Surakarta.</p>
<p>&#8220;Yang saya tahu masjid ini merupakan masjid yang tertua di Sragen,&#8221; kata seorang warga Kecamatan Tanon kabupaten setempat, Widjanarko.</p>
<p>Senada dengan itu, salah seorang warga Kota Solo, Joko Suroso mengatakan, dia baru mengetahui bahwa sejarah pendirian Masjid Kauman Sragen memiliki keterkaitan dengan Keraton Kasunanan Surakarta.</p>
<p>Sebagai pusat penyiaran agama Islam di Kabupaten Sragen, Masjid Kauman terus menunjukkan eksistensinya dalam hal tersebut sejak sekitar 1840.</p>
<p>&#8220;Masjid Kauman didirikan oleh ulama dari Bojonegoro, Kiai Zainal Mustofa, yang ditugaskan oleh Keraton Kasunanan Surakarta untuk penyiaran agama Islam di daerah yang dulu disebut sebagai Bumi Sukowati,&#8221; kata Ketua Takmir Masjid Kauman Sragen, Arkanuddin Masruri.</p>
<p>Konon, kata dia, Masjid Kauman Sragen merupakan bangunan penanda batas wilayah kekuasaan Keraton Kasunanan Surakarta.</p>
<p>Meskipun sudah mengalami renovasi sebanyak dua kali, kata dia, sejumlah bagian peninggalan masa-masa pembangunan awal masjid yang memiliki luas sekitar 750 meter persegi tersebut masih tersisa.</p>
<p>Tampak dari luar, menurut Arkanuddin, tak jauh berbeda dengan masjid-masjid kebanyakan di Sragen yang berasitektur khas Jawa dengan bentuk bujur sangkar dan atap bersusun dengan bahan material baru.</p>
<p>&#8220;Akan tetapi, bila kita masuk ke dalamnya, kita akan melihat sejumlah bagian bangunan yang menunjukkan sudah berumur tua, seperti empat buah pilar berbahan kayu jati yang dipertahankan sejak berdirinya masjid tersebut pada 1840,&#8221; kata dia.</p>
<p>Bahkan, ukiran-ukiran yang ada pada pilar masjid tersebut masih terlihat jelas dan berkesan menyimbolkan eksistensi Masjid Kauman hingga saat ini.</p>
<p>Selain empat pilar masjid berbahan kayu jati tersebut, ujar Arkanuddin, mimbar khotbah yang saat ini digunakan juga menjadi peninggalan sejak awal berdirinya masjid tersebut.</p>
<p>Tak hanya pada bagian utama masjid, gapura Masjid Kauman yang berada di bagian depan bangunan utama juga saat ini berdiri kokoh menyambut kedatangan umat Islam yang akan beribadah sejak dulu hingga sekarang.</p>
<p>Salah satu titik lainnya di bagian kawasan masjid tersebut yang menjadi bagian dari sejarah tempat itu adalah sejumlah makam pendiri dan pemelihara Masjid Kauman.</p>
<p>Keberadaan makam para pendiri dan pemelihara masjid tersebut, menurut Arkanuddin, merupakan wujud kesetiaan para pelaku sejarah masjid tersebut kepada agama Islam dan Keraton Kasunanan Surakarta meskipun tugas mereka sudah berakhir karena takdir maut.</p>
<p>Meskipun para pendiri dan pemeliharanya telah meninggal dan mengakhiri tugas, Masjid Kauman Sragen akan terus menunjukkan eksistensinya dan kesetiannya sebagai tempat penyiaran agama Islam di Sragen dan kawasan di sekitarnya.<br />
(ANT062/H-KWR)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.masjidkita.org/menyusuri-jejak-keraton-di-masjid-kauman-sragen/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Masjid Sholihin Surakarta</title>
		<link>http://www.masjidkita.org/masjid-sholihin-surakarta/</link>
		<comments>http://www.masjidkita.org/masjid-sholihin-surakarta/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 12 Mar 2010 06:30:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aidil</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jawa Tengah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.masjidkita.org/?p=80</guid>
		<description><![CDATA[Masjid Sholihin adalah sebuah masjid di kota Surakarta. Masjid ini didirikan pada tahun 1954 dan terletak di pojok jalan Gajah Mada dan jalan Raden Mas Said. Di dalam masjid ini terdapat sebuah prasasti dalam aksara Hanacaraka dan bahasa Jawa serta prasasti terjemahan dalam bahasa Indonesia mengenai pewakafan tanah untuk masjid ini pada tahun 1954.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Masjid Sholihin</strong> adalah sebuah masjid di kota Surakarta. Masjid ini didirikan pada tahun 1954 dan terletak di pojok jalan Gajah Mada dan jalan Raden Mas Said.</p>
<p>Di dalam masjid ini terdapat sebuah prasasti dalam aksara Hanacaraka dan bahasa Jawa serta prasasti terjemahan dalam bahasa Indonesia mengenai pewakafan tanah untuk masjid ini pada tahun 1954.</p>
<p><img class="alignleft" title="Tampak depan " src="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/c/cc/Masjid_Sholihin_Surakarta_%28outside%29.jpg/800px-Masjid_Sholihin_Surakarta_%28outside%29.jpg" alt="" width="800" height="596" /><img src="file:///C:/DOCUME%7E1/user/LOCALS%7E1/Temp/moz-screenshot.png" alt="" /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.masjidkita.org/masjid-sholihin-surakarta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Masjid Menara Kudus</title>
		<link>http://www.masjidkita.org/masjid-menara-kudus/</link>
		<comments>http://www.masjidkita.org/masjid-menara-kudus/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 10 May 2008 06:39:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aidil</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jawa Tengah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.masjidkita.org/?p=30</guid>
		<description><![CDATA[MASJID yang menurut sejarah didirikan pada tahun 956 Hijriah atau 1549 Masehi ini memiliki nama asli Masjid Al-Aqsa. Konon, Ja’far Sodiq atau yang kemudian dikenal sebagai Sunan Kudus pernah membawa kenangan berupa sebuah batu dari Baitul Maqdis di Palestina untuk batu pertama pendirian masjid yang diberi nama masjid Al-Aqsa. Masjid tersebut kemudian lebih populer dengan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span>MASJID yang menurut sejarah didirikan pada tahun 956 Hijriah atau 1549 Masehi ini memiliki nama asli Masjid Al-Aqsa. Konon, Ja’far Sodiq atau yang kemudian dikenal sebagai Sunan Kudus pernah membawa kenangan berupa sebuah batu dari Baitul Maqdis di Palestina untuk batu pertama pendirian masjid yang diberi nama masjid Al-Aqsa. Masjid tersebut kemudian lebih populer dengan sebutan masjid Menara Kudus, merujuk pada menara candi di sisi timur bangunan utama.</p>
<p>Yang paling monumental dari bangunan masjid ini adalah menara berbentuk candi bercorak Hindu Majapahit, bukan pada ukurannya yang besar saja, tetapi juga keunikan bentuknya yang tak mudah terlupakan. Bentuk ini tidak akan kita temui kemiripannya dengan berbagai menara masjid di seluruh dunia.</p>
<p>Keberadaannya yang tanpa-padanan karena bentuk arsitekturalnya yang sangat khas untuk sebuah menara masjid itulah yang menjadikannya begitu mempesona. Dengan demikian bisa disebut menara masjid ini mendekati kualitas genius locy.</p>
<p><a href="http://photos1.blogger.com/blogger/3812/1573/1600/2CMNS23_18.png" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"><img src="http://photos1.blogger.com/blogger/3812/1573/320/2CMNS23_18.png" border="0" alt="" /></a><br />
</span></p>
<p class="MsoNormal"><span><strong><span lang="SV">Bercorak Candi</span></strong><span lang="SV"> – Menara Masjid Kudus merupakan bangunan menara masjid paling unik di Kota Kudus karena bercorak Candi Hindu Majapahit. (Fotografer: Indra Yudha).</span></span></p>
<p><span></p>
<p>Bangunan menara berketinggian 18 meter dan berukuran sekitar 100 m persegi pada bagian dasar ini secara kuat memperlihatkan sistem, bentuk, dan elemen bangunan Jawa-Hindu. Hal ini bisa dilihat dari kaki dan badan menara yang dibangun dan diukir dengan tradisi Jawa-Hindu, termasuk motifnya. Ciri lainnya bisa dilihat pada penggunaan material batu bata yang dipasang tanpa perekat semen, namun konon dengan dengan digosok-gosok hingga lengket serta secara khusus adanya selasar yang biasa disebut pradaksinapatta pada kaki menara yang sering ditemukan pada bangunan candi.</p>
<p>Teknik konstruksi tradisional Jawa juga dapat dilihat pada bagian kepala menara yang berbentuk suatu bangunan berkonstruksi kayu jati dengan empat soko guru yang menopang dua tumpuk atap tajuk. Sedangkan di bagian puncak atap tajuk terdapat semacam mustoko (kepala) seperti pada puncak atap tumpang bangunan utama masjid-masjid tradisional di Jawa yang jelas merujuk pada elemen arsitektur Jawa-Hindu.</span></p>
<p>Sumber : <a href="http://bambangsb.blogspot.com/2006/05/masjid-menara-kudus-kesinambungan.html" target="_self">Masjid Menara Kudus</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.masjidkita.org/masjid-menara-kudus/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Masjid Mantingan</title>
		<link>http://www.masjidkita.org/masjid-mantinga/</link>
		<comments>http://www.masjidkita.org/masjid-mantinga/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 19 Apr 2008 10:24:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aidil</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jawa Tengah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.masjidkita.org/?p=18</guid>
		<description><![CDATA[Masjid Sholihin adalah sebuah masjid di desa Mantingan, kecamatan Tahunan, kabupaten Jepara. Didirikan dengan lantai tinggi ditutup dengan ubin bikinan Tiongkok, dan demikian juga dengan undak-undakannya. Semua didatangkan dari Makao. Bangunan atap termasuk bubungan adalah gaya Tiongkok. Dinding luar dan dalam dihiasi dengan piring tembikar bergambar biru, sedang dinding sebelah tempat imam dan khatib dihiasi dengan relief-relief [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><img class="alignleft" src="http://1.bp.blogspot.com/_Owgxo0uCZXA/S8dwRtSpbwI/AAAAAAAABQg/PrxWRarw8Yc/s400/masjid+mantingan.jpg" alt="" width="320" height="240" />Masjid Sholihin</strong> adalah sebuah masjid di desa Mantingan, kecamatan Tahunan, kabupaten Jepara.</p>
<p>Didirikan dengan lantai tinggi ditutup dengan ubin bikinan Tiongkok, dan demikian juga dengan undak-undakannya. Semua didatangkan dari Makao. Bangunan atap termasuk bubungan adalah gaya Tiongkok. Dinding luar dan dalam dihiasi dengan piring tembikar bergambar biru, sedang dinding sebelah tempat imam dan khatib dihiasi dengan relief-relief persegi bergambar margasatwa, dan penari penari yang dipahat pada batu cadas kuning tua. Pengawasan pekerjaan pembangunan masjid ini tak lain daripada Babah Liem Mo Han.</p>
<p>Di dalam komplek masjid terdapat makam Sultan Hadlirin, suami dari Kanjeng Ratu Kalinyamat dan adik ipar Sultan Trenggano, penguasa Demak yang terakhir. Selain itu terdapat pula makam waliullah Mbah Abdul Jalil, yang disebut-sebut sebagai nama lain Syekh Siti Jenar.</p>
<p>Sumber : <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Masjid_Mantingan">Masjid Mantingan</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.masjidkita.org/masjid-mantinga/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

