Wisata Religi, Melihat Kemegahan Masjid Al-Irsyad

October 8th, 2011 by aidil No comments »

Sejak diresmikan 2010 lalu, bangunan ini sudah mencuri perhatian tidak hanya warga sekitar tetapi juga di dunia maya. Masjid yang terletak di Padalarang ini masuk 5 besar “Building Of The Year 2010″ oleh National Frame Building Association. Acara akbar yang melibatkan para arsitek di seluruh dunia ini menempatkan Masjid Al Irsyad dalam kategori religious architecture. Menurut ArchDaily, situs publikasi arsitektur terpopuler, Masjid Al Irsyad cukup populer di antara tempat ibadah yang lain dan hanya dikalahkan oleh Gereja Tampa Covenant, Florida, Amerika serikat.

Jika umumnya masjid memiliki kubah atau menara, tidak dengan Masjid Al Irsyad. Masjid yang dirancang oleh Ridwan Kamil, arsitek kenamaan Indonesia ini didesain mirip Ka’bah, berbentuk kubus dengan warna abu-abu. Desainnya sederhana, tidak banyak ornamen namun tetap memiliki keindahan tersendiri.

Dinding masjid terbuat dari batu bata yang disusun sedemikian rupa sehingga membentuk celah yang terbaca sebagai dua kalimat syahadat. Selain memiliki fungsi artistik, lubang-lubang ini juga berfungsi sebagai ventilasi udara. Menjelang malam ketika lampu di dalam masjid mulai dinyalakan, sinar lampu akan menerobos celah ventilasi sehingga jika dilihat dari luar tampak seperti masjid yang memancarkan cahaya berbentuk kalimat syahadat. Sangat mengagumkan.

Keindahan tidak hanya tampak dari luar masjid. Di dalam masjid terdapat 99 lampu bulat berukir asmaul husna yang jika dinyalakan, cahayanya akan membentuk siluet nama-nama suci Allah SWT. Terasa sekali kemegahannya.

Masjid Al Irsyad juga seolah ingin mendekatkan kita pada alam. Lantai tepi mimbar dimanfaatkan untuk kolam di lantai. Suara gemericik air kolam memberikan suasana teduh yang dapat menambah ketenangan ketika beribadah. Dinding di belakang mimbar juga dibiarkan terbuka sehingga jama’ah dapat menikmati pemandangan Padalarang yang menyegarkan.

Didirikan di atas lahan seluas 1.100 meter persegi, masjid berkapasitas 1.500 jama’ah ini selain menjadi tempat ibadah juga menjadi tujuan wisata tak hanya bagi para sekitar Bandung dan Jakarta tetapi juga mancanegara.

sumber

Masjid Wapauwe Maluku

September 23rd, 2011 by aidil No comments »

Masjid Tua Wapauwe adalah masjid yang sangat bersejarah dan merupakan masjid tertua di Maluku. Umurnya mencapai tujuh abad. Masjid ini dibangun pada tahun 1414 Masehi. Masjid yang saat ini masih berdiri dengan kokohnya, menjadi bukti sejarah Islam di Maluku pada masa lampau.

Masjid Wapauwe berada di daerah yang mengandung banyak peninggalan purbakala. Sekitar 150 meter dari masjid ke arah utara, di tepi jalan raya terdapat sebuah gereja tua peninggalan Portugis dan Belanda yang telah hancur akibat konflik agama yang meletus di Ambon pada tahun 1999 lalu. Selain itu, 50 meter dari gereja ke utara, berdiri dengan kokoh sebuah benteng tua “New Amsterdam”. Benteng peninggalan Belanda yang mulanya adalah loji Portugis ini, terletak di bibir pantai ini dan menjadi saksi sejarah perlawanan para pejuang Tanah Hitu melalui Perang Wawane (1634-1643) serta Perang Kapahaha (1643-1646).

Mulanya Masjid ini bernama Masjid Wawanekarena dibangun di Lereng Gunung Wawane oleh Pernada Jamilu, keturunan Kesultanan Islam Jailolo dari Moloku Kie Raha (Maluku Utara). Kedatangan Perdana Jamilu ke tanah Hitu sekitar tahun 1400 M, yakni untuk menyebarkan ajaran Islam pada lima negeri di sekitar pegunungan Wawane yakni Assen, Wawane, Atetu, Tehala dan Nukuhaly, yang sebelumnya sudah dibawa oleh mubaligh dari negeri Arab.

Masjid Tua Wapauwe (foto sekitar tahun 1900-1925).

Masjid ini mengalami perpindahan tempat akibat gangguan dari Belanda yang menginjakkan kakinya di Tanah Hitu pada tahun 1580 setelah Portugis di tahun 1512. Sebelum pecahnya Perang Wawane tahun 1634, Belanda sudah mengganggu kedamaian penduduk lima kampung yang telah menganut ajaran Islam dalam kehidupan mereka sehari-hari. Merasa tidak aman dengan ulah Belanda, Masjid Wawane dipindahkan pada tahun 1614 ke K

ampung Tehala yang berjarak 6 km sebelah timur Wawane.

Dan jika ada daun dari pepohonan di sekitar tempat itu gugur, secara ajaib tak satupun daun yang jatuh diatasnya. Tempat kedua masjid ini berada di suatu daratan dimana banyak tumbuh pepohonan mangga hutan atau mangga berabu yang dalam bahasa Kaitetu disebut Wapa. Itulah sebabnya masjid ini diganti namanya dengan sebutan Masjid Wapauwe, artinya masjid yang didirikan di bawah pohon mangga berabu.

Pada tahun 1646 Belanda akhirnya dapat menguasai seluruh Tanah Hitu. Dalam rangka kebijakan politik ekonominya, Belanda kemudian melakukan proses penurunan penduduk dari daerah pegunungan tidak terkecuali penduduk kelima negeri tadi. Proses pemindahan lima negeri ini terjadi pada tahun 1664, dan tahun itulah ditetapkan kemudian sebagai tahun berdirinya Negeri Kaitetu.

Konstruksi dan arsitektur

Masjid yang masih dipertahankan dalam arsitektur aslinya ini, berdiri di atas sebidang tanah yang oleh warga setempat diberi nama Teon Samaiha. Letaknya di antara pemukiman penduduk Kaitetu dalam bentuk yang sangat sederhana. Konstruksinya berdinding gaba-gaba (pelepah sagu yang kering) dan beratapkan daun rumbia tersebut, masih berfungsi dengan baik sebagai tempat ber-salat Jumat maupun salat lima waktu, kendati sudah ada masjid baru di desa itu.

Bangunan induk Masjid Wapauwe hanya berukuran 10 x 10 meter, sedangkan bangunan tambahan yang merupakan serambi berukuran 6,35 x 4,75 meter. Tipologi bangunannya berbentuk empat bujur sangkar. Bangunan asli pada saat pendiriannya tidak mempunyai serambi. Meskipun kecil dan sederhana, masjid ini mempunyai beberapa keunikan yang jarang dimiliki masjid lainnya, yaitu konstruksi bangunan induk dirancang tanpa memakai paku atau pasak kayu pada setiap sambungan kayu.

[sunting] Renovasi

Masjid ini direnovasi pertama kali oleh pendirinya, Jamilu pada tahun 1464, tanpa mengubah bentuk aslinya. Meski pernah mengalami dua kali pemindahan, bangunan inti masjid ini tetap asli. Bangunan ini mengalami renovasi kedua kali pada tahun 1895 dengan penambahan serambi di depan atau bagian timur masjid.

Masjid berkali-kali mengalami renovasi sekunder setelah masa kemerdekaan Indonesia. Pada tahun 1959, atap masjid mulai menggunakan semen PC yang sebelumnya masih berkerikil. Setelah itu terjadi dua kali renovasi besar-besaran, yaitu pada Desember 1990-Januari 1991 dengan pergantian 12 buah tiang sebagai kolom penunjang dan balok penopang atap. Pada tahun 1993 dilakukan pergantian balok penadah kasau dan bumbungan, dengan tidak mengganti empat buah tiang sebagai kolom utama.

Pada tahun 1997, atap masjid yang semula menggunakan seng diganti dengan bahan (semula) dari nipah. Atap nipah diganti setiap lima tahun sekali. Meski pernah direnovasi berkali-kali, masjid ini tetap asli karena tidak mengubah bentuk inti masjid sama sekali. Sehingga, dapat dikatakan bahwa masjid ini sebagai masjid tertua di tanah air yang masih terpelihara keasliannya hingga kini. Maret 2008 lalu, Masjid ini direnovasi kembali. Struktur atap yang terbuat dari pelepah sagu diganti yang baru.

[sunting] Aksesibilitas

Untuk mencapai Negeri Kaitetu dimana Masjid Tua Wapauwe berada, dari pusat Kota Ambon bisa menggunakan transportasi darat dengan menempuh waktu satu jam perjalanan. Bertolak dari Kota Ambon ke arah timur menuju Negeri Passo. Di simpang tiga Passo membelok ke arah kiri melintasi jembatan, menuju arah utara dan melewati pegunungan hijau dengan jalan berbelok serta menanjak. Sepanjang perjalanan, orang yang hendak menuju Masjid Wapauwe bisa menikmati pemandangan alam pegunungan, dengan sisi jalan yang kadang-kadang memperlihatkan jurang, tebing, atau hamparan tanaman cengkeh dan pala hijau menyejukkan mata.

Sebelum mencapai Kaitetu, terlebih dahulu bertemu Negeri Hitu, yang terletak sekitar 22 kilometer dari Ambon. Sebuah ruas jalan yang menurun, mengantarkan kita memasuki Hitu. Pada ruas jalan tersebut kita disuguhi panorama pesisir pantai Utara Pulau Ambon yang indah dengan hamparan pohon kelapa dan bakau. Dari situ juga dapat melihat dengan jelas Selat Seram dengan lautnya yang tenang.

Tiba di simpang empat Hitu, bagi yang membawa kendaraan harus membelokkan kendaraan ke arah kiri, atau menuju arah barat menyusuri pesisir Utara Jazirah Hitu. Baru setelah menempuh 12 kilometer perjalanan dari situ, maka akan menemukan Negeri Kaitetu, lokasi Masjid Wapauwe[1].

sumber

Masjid Saka Tunggal

September 23rd, 2011 by aidil No comments »

Nama resmi masjid ini adalah Masjid Saka Tunggal Baitussalam, tapi lebih populer dengan nama masjid saka tunggal karena memang masjid ini hanya mempunyai saka tunggal (tiang penyangga tunggal). Saka tunggal yang berada di tengah bangunan utama masjid, saka dengan empat sayap ditengahnya yang akan nampak seperti sebuah totem, bagian bawah dari saka itu dilindungi dengan kaca guna melindungi bagian yang terdapat tulisan tahun pendirian masjid tersebut.

Masjid saka tunggal berukuran 12 x 18 meter ini menjadi satu satunya masjid di pulau Jawa yang dibangun jauh sebelum era Wali Sembilan (Wali Songo) yang hidup sekitar abad 15-16M. Sedangkan masjid ini didirikan tahun 1288M, 2 abad sebelum Wali Songo. Sekaligus menjadikan Masjid Saka Tunggal Baitussalam sebagai Masjid Tertua di Indonesia.

Lokasi

Masjid Masjid Saka Tunggal Baitussalam berada di Desa Cikakak, Kecamatan Wangon Banyumas. Ditengah suasana pedesaan Jawa yang begitu kental. Di kawasan masjid yang dipenuhi dengan kera-kera yang berkeliaran bebas. Bangunan masjid juga sangat unik, beratapkan ijuk serta sebagian dindingnya dari anyaman bambu.

Sejarah Masjid Saka Tunggal

Masjid ini dibangun pada tahun 1288 Masehi sebagaimana tertulis di prasasti yang terpahat di saka masjid itu lebih tua dari kerajaan majapahit yang berdiri tahun 1294 Masehi, masjid ini berdiri ketika masa kerajaan singasari  dan merupakan masjid tertua di indonesia.

Sejarah Masjid Saka tunggal senantiasa terkait dengan Tokoh penyebar Islam di Cikakak, bernama Mbah Mustolih yang hidup dalam Kesultanan Mataram Kuno. Itu sebabnya, tidak heran bila unsur Kejawen masih cukup melekat. Dalam syiar Islam yang dilakukan, Mbah Mustolih memang menjadikan Cikakak sebagai “markas” dengan ditandai pembangunan masjid dengan tiang tunggal tersebut. Beliau dimakamkan tak jauh dari masjid Saka Tunggal.

Tradisi Unik Masjid Saka Tunggal, Banyumas

Zikir seperti melantunkan kidung jawa
Keunikan masjid saka tunggal Banyumas, benar benar terasa di hari Jum’at. Selama menunggu waktu sholat jum’at dan setelah sholat jum’at, Jamaah masjid Saka Tunggal berzikir dan bershalawat dengan nada seperti melantunkan kidung jawa. Dengan bahasa campuran Arab dan Jawa, tradisi ini disebut tradisi ura ura.

Pakaian Imam dan muazin
Imam masjid tidak menggunakan penutup kepala yang lazimnya digunakan di Indonesia yang biasanya menggunakan peci, kopiyah, tapi menggunakan udeng/pengikat kepala. khutbah jumat disampaikan seperti melantunkan sebuah kidung,

Empat muazin sekaligus
Empat orang muazim berpakaian sama dengan imam, menggunakan baju lengan panjang warna putih, menggunakan udeng bermotif batik, dan ke empat muazin tersebut mengumandangkan adzan secara bersamaan.

Semuanya dilakukan berjama’ah
Uniknya lagi, seluruh rangkaian sholat jumat dilakukan secara berjamaah, mulai dari shalat tahiyatul masjid, kobliah juma’at, shalat Jumat, ba’diah jum’at, shalat zuhur, hingga ba’diah zuhur. Semuanya dilakukan secara berjamaah.

Tanpa Pengeras Suara
Masjid Saka Tunggal Baitussalam hingga saat ini masih mempertahankan tradisi untuk tidak menggunakan pengeras suara. Meski demikian suara azan yang dilantunkan oleh empat muazin sekaligus, tetap terdengar begitu lantang dan merdu dari masjid ini.

Ritual Ganti Jaro, Masjid Saka Tunggal

Adalah ritual mengganti pagar bambu keliling masjid saka tunggal. Ritual ini diikuti oleh seluruh warga desa Cikakak. Dalam ritual yang mereka sebut ganti Jaro Rajapine. Saat membuat pagar ada beberapa pantangan yang harus ditaati. Mereka dilarang berbicara dengan suara keras serta tidak boleh menggunakan alas kaki. Sehingga yang terdengar hanya pagar bambu yang dipukul. Karena melibatkan ratusan warga, hanya dalam waktu 2 jam pagar sepanjang 300 meter ini selesai.

Selain bermakna kebersamaan dan gotong royong, tradisi ganti Jaro Rajab ini bagi warga di sini dipercaya bisa menghilangkan sifat jahat dari diri manusia. Pagar bambu ini selain mengelilingi Masjid Saka Tunggal juga makam Nyai Toleh. Seorang penyebar agama di Banyumas. Sejumlah utusan dari kraton Surakarta dan Ngayogjogkarta Hadiningrat ikut ambil bagian dalam acara ini dengan memanjatkan doa di makam, sebagai rasa syukur.

Ritual ganti Jaro Rajab ini kemudian diakhiri dengan prosesi arak arakan 5 gulungan yang berisi nasi tumpeng ini kemudian diperebutkan warga karena dipercaya bisa memberikan berkah.

Arsitektur Masjid Saka Tunggal, Banyumas

Salah satu keunikan Saka Tunggal adalah empat helai sayap dari kayu di tengah saka. Empat sayap yang menempel di saka tersebut melambangkan ”papat kiblat lima pancer”, atau empat mata angin dan satu pusat. Papat kiblat lima pancer berarti manusia sebagai pancer dikelilingi empat mata angin yang melambangkan api, angin, air, dan bumi. Saka tunggal itu perlambang bahwa orang hidup ini seperti alif, harus lurus. Jangan bengkok, jangan nakal, jangan berbohong. Kalau bengkok, maka bukan lagi manusia.

Empat mata angin itu berarti bahwa hidup manusia harus seimbang. Jangan terlalu banyak air bila tak ingin tenggelam, jangan banyak angin bila tak mau masuk angin, jangan terlalu bermain api bila tak mau terbakar, dan jangan terlalu memuja bumi bila tak ingin jatuh. ”Hidup itu harus seimbang,”

Papat kiblat lima pancer ini sama dengan empat nafsu yang ada dalam manusia. Empat nafsu yang dalam terminologi Islam-Jawa sering dirinci dengan istilah aluamah, mutmainah, sopiah, dan amarah. Empat nafsu yang selalu bertarung dan memengaruhi watak manusia.

Keaslian yang masih terpelihara adalah ornamen di ruang utama, khususnya di mimbar khotbah dan imaman. Ada dua ukiran di kayu yang bergambar nyala sinar matahari yang mirip lempeng mandala. Gambar seperti ini banyak ditemukan pada bangunan-bangunan kuno era Singasari dan Majapahit.

Kekhasan yang lain adalah atap dari ijuk kelapa berwarna hitam. Atap seperti ini mengingatkan atap bangunan pura zaman Majapahit atau tempat ibadah umat Hindu di Bali. Tempat wudu pun juga masih bernuansa zaman awal didirikan meskipun dindingnya sudah diganti dengan tembok.

Renovasi dan Benda Benda Peninggalan

Sejak tahun 1965 masjid ini sudah dua kali dipugar. Selain dinding tembok, juga diberi dinding anyaman bambu serta lapisan atap seng, Meski sebagian dinding telah direhab dengan tembok, tetapi arsitektur masjid tetap tidak diubah. Sehingga tidak ada perbedaan bentuk yang berarti dari awal berdiri hingga sekarang. Sedangkan tiang dari kayu jati yang menopang bangunan utama masjid dengan ukuran masih terlihat begitu kokoh. Selama ratusan tahun berdiri, warga dan jamaah di Cikakak sama sekali tidak mengganti bangunan utama yang ada di tempat itu, kecuali hanya membangun tembok sekeliling masjid sebagai penopang. Barang lainnya yang sampai sekarang masih tetap rapi dan dipelihara di antaranya adalah bedug, kentongan, mimbar masjid, tongkat khatib dan tempat wudlu.

Status
Sebagaimana tertulis dalam papan peringatan di sekitar masjid, tertulis bahwa, Masjid Saka Tunggal Baitussalam, Desa Cikakak, Kabupaten Banyumas merupakan Benda Cagar Budaya/Situs dengan nomor 11-02/Bas/51/TB/04 dan dilindungi undang undang RI No. 5 tahun 1992 dan PP nomor 10 tahun 1993.

 

sumber

Masjid Al-Furqon Bandar Lampung

January 10th, 2011 by No comments »

Sebelum Lebaran Masjid Mukomuko Dihias Bagaikan Pengantin

January 10th, 2011 by No comments »

Mukomuko, Bengkulu (ANTARA News) – Masyarakat Mukomuko, Bengkulu, mulai bersiap untuk menghias masjid di sekitar permukiman mereka agar tampil bak pengantin, seperti yang selalu dilakukan setiap menyambut Hari Raya Idul Fitri.

Tokoh Adat sekeligus mantan Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Mukomuko Darwis Rajo Lelo, di Mukomuko, Minggu, mengatakan, kebiasaan menghias masjid itu biasanya dimulai dua hari sebelum Lebaran.

“Hiasan itu dibuat dan dipasangi oleh masyarakat dengan cara bergotong royong,” ungkapnya.

Ia mengatakan, maksud hiasan tersebut sebagai simbol kerajaan dan setiap acara pernikahan di daerah ini simbol kerajaan tersebut juga selalu digunakan untuk menghiasi setiap sudut rumah calon pengantin.

“Tujuan pemasangan hiasan itu untuk membuat kesan yang baik selain berupa ciri khas menghadapi Lebaran,” katanya menegaskan.

Jenis hiasan yang dipasang itu dari daun kelapa yang disulam sedemikian rupa sehingga bentuknya menjadi indah.

“Dekorasi yang sudah disulam itu dipasang di depan pintu masuk dan ruangan masjid,” kata Darwis.

Selain dekorasi yang terbuat dari daun kelapa, hiasan itu juga berupa umbul-umbul yang dipasangi di depan pagar masjid.

“Umbul-umbul yang dipasang itu warnanya berbeda-beda sehingga ada kesan keindahan ketika pertama masuk dan melewati masjid,” katanya.

Ada empat masjid di Kecamatan Kota Mukomuko yang akan dihiasi dengan memesang dekorasi, yakni masjid Baiturahman Kelurahan Koto Jaya, Masjid Al Falah Kelurahan Pasar Mukomuko, Masjid Almutaqqin Desa Ujung Padang, dan masjid Nurul Falah Kelurahan Bandar Ratu.(*)

Sumber: Antara

(ANT-149/R009)

Presiden Obama Pagi ini ke Masjid Istiqlal

November 10th, 2010 by No comments »

Jakarta (ANTARA News) – Presiden Amerika Serikat Barack Obama dijadwalkan melakukan kunjungan ke Masjid Istiqlal, Jakarta, Rabu pagi. Menjelang kedatangan presiden ke-44 AS itu pengamanan di sekitar masjid terbesar di Asia Tenggara tersebut diperketat.

Para tamu undangan dan wartawan memasuki halaman Masjid melalui pintu masuk di Medan Merdeka Timur.

Sebelum memasuki kawasan Masjid dilakukan pemeriksaan identitas guna memastikan nama yang bersangkutan tercantum dalam daftar hadir.

Selain dilakukan pemeriksaan barang melalui pemindai elektronik, barang-barang para tamu undangan termasuk kamera dan komputer jinjing juga diperiksa secara manual oleh pasukan pengamanan presiden AS.

Para tamu undangan yang rata-rata telah tiba di lingkungan Masjid sekitar satu hingga dua jam sebelum acara dipersilakan menunggu di ruang-ruang tunggu khusus dengan penjagaan petugas dari Kedutaan Besar AS dan pasukan pengamanan presiden AS.

Ketatnya pengamanan tidak memungkinkan para tamu yang telah berada di lingkungan Masjid untuk berkeliaran tanpa izin dan pemandu.

Presiden Obama dan istrinya, Michelle Obama dijadwalkan tiba di halaman Masjid sekitar pukul 08.30an kemudian diterima oleh Imam Masjid Istiqlal KH Ali Mustafa Yaqub MA di Ruang VIP melalui pintu Al Malik yang menghadap Stasiun Juanda.

Obama kemudian akan mendengarkan penjelasan mengenai sejarah Masjid dan diperlihatkan sejumlah lokasi di sekitar Masjid, antara lain tempat maket Masjid, bedug serta Menara Masjid guna melihat keseluruhan bangunan Masjid.
(G003/A038)

Sumber: Antara

Merkel: Masjid Akan Jadi Bagian Lebih Besar dari Jerman

September 19th, 2010 by No comments »

Berlin (ANTARA News) – Kanselir Jerman, Angela Merkel, mengatakan bahwa warga Jerman telah begitu lama gagal menangkap bagaimana imigrasi mengubah negeri mereka, dan akan terbiasa dengan pemandangan lebih banyak masjid di kota-kota mereka, demikian satu surat kabar melaporkan.

Jerman, dengan penduduk beragama Islam mencapai sedikitnya 4 juta, telah terbelah beberapa pekan baru-baru ini oleh satu perdebatan tentang integrasi yang dipicu pernyataan anggota bank sentral negeri itu terkait imigran Muslim.

“Negeri kita akan berubah dan integrasi juga merupakan tugas bagi masyarakat yang mengangkat imigran,” kata Merkel kepada harian Frankfurter Allgemeine Zeitung, yang dikutip AFP.

“Selama bertahun-tahun kita menipu diri sendiri tentang ini. Masjid, misalnya, akan menjadi bagian yang lebih penting di kota-kota kita daripada sebelumnya,” ujarnya.

Thilo Sarrazin dari Bundesbank ialah orang pertama pemicu perdebatan yang menyinggung soal agama dan integrasi. Ia berpendapat para imigran Turki dan Arab gagal berintegrasi dan membanjiri Jerman dengan angka kelahiran lebih tinggi.

Swiss memicu kutukan internasional tahun lalu ketika memutuskan untuk melarang pembangunan menara.

Perselisihan soal agama telah terjadi di Amerika Serikat selama beberapa pekan terakhir gara-gara rencana untuk membangun satu pusat kebudayaan Islam di lokasi World Trade Center runtuh.

Sementara itu hubungan antara Berlin dan Paris terganggu pekan ini oleh pertikaian antara Merkel dan Presiden Prancis Nicolas Sarkozy tentang pengusiran Prancis atas migran Roma.

Hadiah Desain Masjid Sriwijaya Rp170 Juta

August 31st, 2010 by No comments »

Palembang (ANTARA News) – Pemenang sayembara desain masjid Sriwijaya yang akan dipamerkan di Hotel Swarna Dwipa mulai hari Rabu besok (1/9) selama satu minggu kedepan total hadiahnya Rp170 juta.

Pemenang desain masjid Sriwijaya ini ada enam orang ditambah satu pemenang favorit, kata Kepala Dinas PU Cipta Karya Sumatera Selatan, Rizal Abdullah, di Palembang, Selasa.

Menurut dia, pemenang pertama mendapat hadiah Rp60 juta, kedua Rp50 juta dan pemenang ketiga Rp40 juta.

Sedangkan juara harapan satu, dua dan tiga serta pemenang favorit masing-masing mendapatkan hadiah Rp5 juta.

Jadi, total hadiah secara keseluruhan untuk pemenang sayembara desain masjid Sriwijaya itu Rp170 juta, katanya.

Ia mengatakan, untuk pemenang desain sayembara masjid Sriwijaya itu, pihaknya mengajak masyarakat untuk menentukan pemenangnya.

Ada 18 desain yang akan dinilai, kemudian nantinya menjadi enam pemenang dan satu pilihan masyarakat yakni favorit.

Ia mengatakan, yang melakukan penilaian adalah tim, kemudian tokoh masyarakat, dari MUI, IAIN dan satu dari Jakarta.

Konsep masjid itu bermacam-macam dan memang diberikan kebebasan kepada mereka, jadi ada pakai hiasan songket, mediterian dan lainnya.

Memang diberikan kebebasan kepada mereka, walaupun ada ciri tertentu pada desain masjid tersebut, demikian Rizal Abdullah. (ANT-038/S026)

Sumber: Antara

Menyusuri Jejak Keraton di Masjid Kauman Sragen

August 23rd, 2010 by No comments »

Sragen (ANTARA News) – Tak banyak berbeda dibandingkan suasana masjid lain saat Ramadhan, setiap siang di bulan Ramadhan banyak umat Islam yang merebahkan tubuhnya di pelataran Masjid Kauman, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah, berlindung dari panasnya hawa di kabupaten tersebut.

Tak hanya warga di sekitar masjid yang berada di sebelah selatan kawasan Pendopo Kabupaten Sragen tersebut, tak sedikit umat Islam yang berasal dari luar Sragen beribadah sembari beristirahat.

Namun, banyak dari masyarakat yang beribadah dan yang juga sambil beristirahat di Masjid Kauman Sragen kurang mengetahui bahwa sejarah pendirian tempat itu berkaitan dengan Keraton Kasunanan Surakarta.

“Yang saya tahu masjid ini merupakan masjid yang tertua di Sragen,” kata seorang warga Kecamatan Tanon kabupaten setempat, Widjanarko.

Senada dengan itu, salah seorang warga Kota Solo, Joko Suroso mengatakan, dia baru mengetahui bahwa sejarah pendirian Masjid Kauman Sragen memiliki keterkaitan dengan Keraton Kasunanan Surakarta.

Sebagai pusat penyiaran agama Islam di Kabupaten Sragen, Masjid Kauman terus menunjukkan eksistensinya dalam hal tersebut sejak sekitar 1840.

“Masjid Kauman didirikan oleh ulama dari Bojonegoro, Kiai Zainal Mustofa, yang ditugaskan oleh Keraton Kasunanan Surakarta untuk penyiaran agama Islam di daerah yang dulu disebut sebagai Bumi Sukowati,” kata Ketua Takmir Masjid Kauman Sragen, Arkanuddin Masruri.

Konon, kata dia, Masjid Kauman Sragen merupakan bangunan penanda batas wilayah kekuasaan Keraton Kasunanan Surakarta.

Meskipun sudah mengalami renovasi sebanyak dua kali, kata dia, sejumlah bagian peninggalan masa-masa pembangunan awal masjid yang memiliki luas sekitar 750 meter persegi tersebut masih tersisa.

Tampak dari luar, menurut Arkanuddin, tak jauh berbeda dengan masjid-masjid kebanyakan di Sragen yang berasitektur khas Jawa dengan bentuk bujur sangkar dan atap bersusun dengan bahan material baru.

“Akan tetapi, bila kita masuk ke dalamnya, kita akan melihat sejumlah bagian bangunan yang menunjukkan sudah berumur tua, seperti empat buah pilar berbahan kayu jati yang dipertahankan sejak berdirinya masjid tersebut pada 1840,” kata dia.

Bahkan, ukiran-ukiran yang ada pada pilar masjid tersebut masih terlihat jelas dan berkesan menyimbolkan eksistensi Masjid Kauman hingga saat ini.

Selain empat pilar masjid berbahan kayu jati tersebut, ujar Arkanuddin, mimbar khotbah yang saat ini digunakan juga menjadi peninggalan sejak awal berdirinya masjid tersebut.

Tak hanya pada bagian utama masjid, gapura Masjid Kauman yang berada di bagian depan bangunan utama juga saat ini berdiri kokoh menyambut kedatangan umat Islam yang akan beribadah sejak dulu hingga sekarang.

Salah satu titik lainnya di bagian kawasan masjid tersebut yang menjadi bagian dari sejarah tempat itu adalah sejumlah makam pendiri dan pemelihara Masjid Kauman.

Keberadaan makam para pendiri dan pemelihara masjid tersebut, menurut Arkanuddin, merupakan wujud kesetiaan para pelaku sejarah masjid tersebut kepada agama Islam dan Keraton Kasunanan Surakarta meskipun tugas mereka sudah berakhir karena takdir maut.

Meskipun para pendiri dan pemeliharanya telah meninggal dan mengakhiri tugas, Masjid Kauman Sragen akan terus menunjukkan eksistensinya dan kesetiannya sebagai tempat penyiaran agama Islam di Sragen dan kawasan di sekitarnya.
(ANT062/H-KWR)

NTB Bangun Masjid Raksasa Berkapasitas 15.000 Orang

August 8th, 2010 by No comments »

Mataram (ANTARA News) – Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat mengagendakan pembangunan masjid raksasa berkapasitas 15.000 orang dalam kompleks pusat keislaman (Islaim Center) di Mataram, Pulau Lombok.

“Dalam perencanaan, masjid yang akan dibangun di `Islamic Center` itu berkapasitas 15.000 orang,” kata Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) Nusa Tenggara Barat (NTB) Rosyadi Sayuti, di Mataram, Minggu.

Ia mengatakan, sejauh ini Pulau Lombok NTB yang dikenal dengan sebutan Pulau Seribu Masjid, belum memiliki masjid besar yang mampu menampung jamaah lebih dari 5.000 orang.

Karena itu, dipandang penting untuk membangun masjid dengan kapasitas belasan ribu orang sebagai induk dari ribuan masjid yang ada di Pulau Lombok.

Menurut Sayuti, pembangunan “Islamic Center” di jantung Kota Mataram itu akan berlangsung dalam dua tahun sehingga diperkirakan paling lambat tahun 2012 NTB telah memiliki kawasan pusat keislaman.

Kini, sedang disusun rencana detail atau yang dikenal dengan DED (Detail Engineering Design) `Islamic Center` Mataram itu yang dijadwalkan rampung akhir Desember mendatang atau selama setahun penyusunan.

DED itu merupakan tindaklanjut dari hasil karya kelompok diskusi Puddezoe yang memenangkan lomba “grand design” Islamic Center di Pulau Lombok.

Puddezoe mendesain sembilan elemen gedung pendukung “Islamic Center” atau hampir mendekati 12 fungsi keislaman antara lain tempat ibadah, perpustakaan, museum, pusat pendidikan, fasilitas olahraga termasuk kolam renang muslimah dan muslimin.

Pusat pendidikan itu mencakup gedung TK, SD, SMP dan SMA serta “community College” dan gedung pengkajian keislaman, dan ilmu pengetahuan dan teknologi.

“Juga ada kompleks komersial yang terdiri dari tiga unit bisnis yakni hotel, gedung konvensi dan perkantoran,” ujarnya.

Sayuti mengatakan, pembangunan “Islamic Center” itu dijawalkan terlaksana dalam lima tahapan, yang diawali dengan tahap awal berupa kegiatan perataan tanah (ground breaking), pembangunan area pendidikan, relokasi saluran irigasi dan relokasi Sekolah Pembangunan Pertanian (SPP) Mataram.

Tahap kedua menyangkut lanjutan pembangunan area pendidikan, relokasi SMP Negeri 6 Mataram dan pembangunan masjid raya yang berkapasitas 15.000 orang itu, yang akan berlanjut hingga tahap ketiga dan keempat.

Pada tahap keempat juga mencakup pembangunan jalan akses “Islamic Center” dan renovasi masjid Attaqwa menjadi pusat kajian iptek yang selalu dilandasi nilai-nilai Islam.

“Sementara tahap kelima atau akhir mencakup pembangunan fasilitas bisnis/area komersial sekaligus penataan lingkungan area masjid,” ujar Sayuti. (A058/K004)

Sumber: Antara